Sabtu, 22 Oktober 2011

Pendidikan Karakter Indonesia Baru Sentuh Pengenalan Norma

Pendidikan karakter merupakan salah satu hal penting untuk membangun karakter bangsa. Sayangnya, pendidikan karakter di Indonesia selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai. Pendidikan karakter yang dilakukan belum sampai pada tingkatan interalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Tim Ahli Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM, Prof Sutaryo mengungkapkan, saat ini terlihat adanya reduksi besar-besaran terhadap arti pendidikan dan kebudayaan.

Salah satunya seperti pemisahan antara pendidikan dan kebudayaan pada ranah struktur aparatur pemerintah yang awalnya adalah Departemen Pendidikan dan Kebudayan menjadi Departemen Pendidikan serta Departemen Kebudayaan dan pariwisata.

Dalam hal itu, katanya, pendidikan direduksi jadi persekolahan yang mengharuskan untuk mendidik berbasis kompetensi untuk mempersiapkan manusia Indonesia menjadi tenaga dalam kerangka mekanisme pasar dunia. Analisis sejarah pendidikan Indonesia telah diajukan Ki Hadjar Dewantara pada tahun 1922.

"Pendidikan sekolah saat ini sudah tercerabut dari filosofi pendidikan. Tiga pusat pendidikan yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat justru dipisahkan. Pada akhirnya hasil akhir dari pendidikan itu sendiri lebih sering menjadi tidak menentu," urainya.

Demikian pula dengan kebudayaan yang direduksi menjadi kegiatan kebudayaan dan pariwisata dengan tujuan menjaring wisatawan sebanyak mungkin untuk menimba devisa. "Yang terjadi justru bukan dalam ranah untuk meneguhkan karakter budaya bangsa sebagai basis mental masyarakat Indonesia," jelasnya.

Sementara itu, budayawan Prof Dr Sumijati AS menyampaikan, desain pendidikan karakter di sekolah melalui model sekolah harmoni. Konsep sekolah harmoni mengedepankan nilai-nilai keserasian, ketentraman, kedamaian dalam aktifitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru, siswa, dan seluruh elemen di sekolah.

"Pendidikan karakter dalam sekolah harmoni mengajarkan hidup dalam perbedaan, membangun kepercayaan, saling menghargai dan pengertian serta menumbuhkan sikap terbuka dalam berpikir," Jelasnya.

Sumber: Suara Merdeka

0 komentar:

Posting Komentar