Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Januari 2012

Waspadai Wilayah Paling Rawan Ranjau Paku

Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya mencatat hampir seluruh jalanan di Jakarta terancam ranjau paku. Data yang dimiliki kepolisian, dari 32 titik rawan yang ada saat ini, jumlahnya bertambah menjadi 47 titik.

Kepala Subdirektorat Keamanan dan Keselamatan Ditlantas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Yakub Dedy Karyawan, mengatakan dari hasil inventarisir, titik rawan ranjau paku dipastikan akan terus bertambah.

Untuk itu pihaknya bekerjasama dengan komunitas ranjau paku dan komunitas kendaraan bermotor roda dua untuk turut perduli memberikan informasi karena mereka selalu ada di lapangan.

"Dengan adanya bantuan dari komunitas tersebut kami merasa terbantu untuk menyapu bersih paku-paku yang tersebar luas di jalanan terutama di titik-titik yang rawan terhadap aksi penebaran paku," ujar Yakub, di Jakarta.

Berikut kawasan paling rawan ranjau paku:

Jakarta Timur

1. Dari Harapan Indah di BKT sampai Pupar.

2. Jalan TB Simatupang terutama dekat Fly Over Lenteng Agung dan kearah Pasar Minggu.
3. Dari Menara Saidah kearah Perempatan Kuningan.
4. Jalan Perintis Kemerdekaaan, Pulogadung arah Cempaka Mas.
5. Ruas Jalan Raya Bogor, Cibubur Arah Cijantung.
6. Jalan Jenderal DI Panjaitan (Perempatan Halim lama sampai depan Kemhan)

Jakarta Barat

1. Jalan S Parman dari Rumah Sakit Harapan kearah lampu merah Slipi termasuk Fly Over Slipi
2. Dari lampu merah Slipi arah Tomang
3. Jelambar
4. Ruas Jalan Daan Mogot, sekitar Jembataan Gantung sampai Biskuit
5. Pintu KA Roxi arah Harmoni (Bawah FO)
6. TL Ciledug arah Harmoni (dari arah Roxi)
7. TL Cideng arah Tanah Abang
8. Roxi arah Kalideres ( Sebelum TL Kaliderses dari arah Cengkareng yang ada FO, Selepas terminal Kalideres, dan Sekitar Taman Kota)

Jakarta Utara

1. Sepanjang ruas jalan Yos Sudarso
2. Ruas Jalan RE Martadinata
3. Ruas jalan Raya Cilincing
4. Ruas Jalan Enggano, setelah TL Enggano arah terminal Tanjung Priok.
5. Ruas Jalan Danau Sunter arah Kemayoran
6. Ruas Jalan pengangsaan dua
7. Jalan Raya Pelumpang
8. Pasar Gambir, Jalan Benyamin Sueb, Pademangan, Jakarta Utara.

Jakarta Pusat

1. Jalan Gatot Subroto hingga ke Perempetan TL Kuningan dan arah sebaliknya
2. Jalan Majaapahit dari Tanah Abang menuju Harmoni.
3. Underpass Senen dari arah Cempaka Putih menuju ke Senen
4. Jalan KH Hasyim Ashari dari layang Roxi arah jalan Gajah Mada
5. Ruas jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk
6. Jalan Merdeka Utara
7. Depan RS Salemba Carolus
8. Ujung turunan Fly Over Farmasi dari arah Jalan Gerbang Pemuda (TVRI)

Jakarta Selatan

1. Fly Over Permata Hijau kearah Pondok Indah, tepatnya di depan Mesjid Istiqomah
2. Dari Willian mobil kearah lampu merah Kostrad
3. Jalan Prof Satrio, dari Mall Ambassador ke jalan Cassablanca
4. Terowongan Casablanca ke arah Mall Ambassador
5. Jalan Sultan Agung, Manggarai arah Dukuh Bawah
6. Jalan Gatot Subroto dari depan Bank Mandiri sebelum Polda Metro hingga Semanggi.

Bekasi Kota

1. Traffic Light Pondok Ungu. Sampai jembatan Banjir Kanal Timur
2. Jalan Raya Bekasi arah kantor walikita Bekasi.

Bekasi Kabupaten
1. Jalan Raya Cibarusah
2. Lemah Abang -Kd. Waringin
3. Jalan Isnpeksi Kalimalang.

Tangerang Kota
1. Jalan Daan Mogot setelah Jembatan Batu Ceper, Tangerang.
2. Ruas jalan Raya Serang.

Depok
1. Ruas Jalan Margonda (Balai Kota Depok sampai dengan Terminal Depok).
2. Jalan Juanda
3. Jalan Raya Bogor.

Yakub mengimbau, kepada seluruh pengguna jalan agar tetap waspada jika melintas di jalan-jalan yang disebutkan di atas. Hindari lajur paling kiri karena dianggap paling rawan.

"Mari sama-sama untuk lebih peduli, makanya kita kembangkan terus untuk sama-sama memerangi ranjau paku payung ini," kata dia.

Sumber: VivaNews

Selasa, 20 Desember 2011

Bidan Teladan, Sehatkan Warga Lewat Sampah

Sri Partiyah bukan pemulung. Yang ia lakukan hanya membangun 'Bank Sampah' demi menunjang serangkaian program kebidanan di area tugasnya, Desa Duwet, Kecamatan Bendo, Magetan, Jawa Timur.

Dengan beragam program kesehatan keluarga yang ia canangkan, bidan desa itu menjadi magnet tersendiri dalam penjurian Srikandi Award 2011.

Lewat Bank Sampah, ia mencipta mahakarya yang tak hanya mengatasi masalah sampah di lingkungan, tetapi juga mengatasi masalah kesehatan dan ekonomi warga di desanya. Mengakrabi sampah tak mengotori niatnya membantu kesejahteraan warga desa.

Berawal dari kasus gizi buruk yang melanda desanya, ia berjuang melanggengkan program pemerintah, yakni Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pemulihan gizi buruk. Banyak bayi yang kembali tersandung masalah gizi buruk ketika program dihentikan.

"Setelah survei ternyata banyak keluarga tidak mampu memberikan asupan gizi yang cukup. Akhirnya, saya mencoba untuk memberikan penanganan yang tidak tergantung pada pemerintah," ujarnya ketika ditemui VIVAnews.com.

Dari keinginan tersebut, muncul ide cemerlang dari hasil jalan-jalan ke pengepulan sampah. "Waktu saya jalan-jalan bersama suami, saya menemukan tempat penampungan sampah, saya bertanya harga berbagai jenis sampah. Dari sana, saya berkesimpulan bahwa mengolah sampah dapat menghasilkan keuntungan yang banyak."

Beroperasi sejak Juni 2010, Bank Sampah mulanya hanya memiliki 56 nasabah dari 600 kepala keluarga yang ada di desanya. Meski terbilang sedikit, tak disangka Bank Sampah mampu meraih keuntungan hingga 100 persen.

"Dari jumlah tabungan sekitar Rp200-an ribu, kami mendapatkan hasil penjualan sampah ke pengepul sekitar Rp500-an ribu," ujarnya. Dan kini, peminatnya semakin melonjak hingga 350 nasabah.

Bank Sampah memiliki sistem sama dengan bank pada umumnya. "Keluarga datang dengan membawa sampah anorganik, kami timbang dan kami tentukan harganya. Lalu, mereka membawa nota penimbangan ke bendahara untuk dilakukan pencatatan di buku tabungan. Warga pun berhak mengambil uangnya atau menabungnya."

Sampah dihargai sesuai jenisnya. Besi dihargai Rp3.000 per kilogram, kardus Rp1.000 per kilogram, kertas Rp1.000 per kilogram, dan plastik Rp300 per kilogram.

Dari hasil penjualan ke pengepul, Bank Sampah mendapat keuntungan sebagai modal penanaman buah pepaya yang berguna dalam memenuhi asupan nutrisi warga. Selain investasi tanaman pepaya, keuntungan juga digunakan untuk penyediaan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) untuk balita bergizi kurang dan buruk, serta pemenuhan gizi ibu hamil.

Tak hanya itu, keuntungan juga dipakai untuk mengadakan door prize di posyandu untuk balita yang hadir. "Agar kalau ibu enggan ke posyandu, anaknya yang ngajak. Door prize pun cenderung yang bermanfaat seperti payung atau handuk."

Kalau saat ini yang dikumpulkan hanya sampak anorganik, bidan pun mulai mempersiapkan program tambahan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos.

"Kelompok tani yang baru saja mendapatkan bantuan berupa mesin pengolah sampah organik sudah mengajak kerja sama. Nantinya, Bank Sampah sebagai tempat untuk mengumpulkan sampah organik juga, lalu kami olah menjadi kompos dan dijual lagi ke masyarakat," ujarnya.

Rencananya, satu kilogram sampah organik akan dibeli dengan harga Rp300. Sampah-sampah ini akan diolah bersama-sama kelompok tani menjadi kompos, yang hasilnya dijual lagi ke masyarakat dan petani dengan harga Rp500 per kilogram.

Keseluruhan program Bank Sampah tentu berdampak jangka panjang pada kesejahteraan warga, lingkungan, dan tentunya kesehatan warga Desa Duwet. Satu solusi untuk beragam masalah.

Sumber: VivaNews

Kamis, 15 Desember 2011

Ini Alasan Utama di Balik Perselingkuhan

Ada banyak penjelasan mengapa seorang pria mengkhianati pasangan dan berselingkuh. Ada yang menyebut evolusi psikologi, sebagian lain mengatakan akibat kecanduan seks hingga kebosanan dalam hubungan. Namun, apakah yang sebenarnya menjadi motivasi para peselingkuh?

Sebuah studi menyebut, perselingkuhan meningkat drastis selama 40 tahun terakhir. Namun di saat bersamaan sikap sosial menentang perselingkuhan juga meningkat. Dikutip dari Yourtango, satu-satunya alasan baik pria maupun wanita untuk berselingkuh, yang diakui 80 persen pria dan wanita adalah 'ketidaktahuan'.

Mereka yang pernah terlibat perselingkuhan fisik maupun emosi mengaku tidak tahu bahwa perbuatan selingkuh mereka sangat berbahaya pada hubungan utama. Mereka juga tak tahu bagaimana mencegah diri sendiri untuk merencanakan dan melakukan perselingkuhan.

Meskipun sebagian kecil orang memang memiliki gairah berlebih, dengan pengelolaan yang baik, hasrat seksual berlebih tak perlu berubah menjadi candu dan merusak rumah tangga. Hal yang sama dengan hobi minum alkohol atau makan cokelat yang bisa diatur agar tak membahayakan kesehatan dan kehidupan.

Dalam sebagian besar hubungan, ketidaksetiaan dalam hubungan pernikahan seringkali mengarah pada perpisahan dan perceraian. Anak-anak dengan orang tua bercerai memiliki risiko mengembangkan masalah mental, fisik dan akademis serius ketimbang mereka dengan pasangan orang tua rukun.

Untuk itu, sebelum Anda mencoba-coba untuk menjalin hubungan dengan orang lain selain pasangan, ingatlah, Anda sedang mempertaruhkan komitmen dan masa depan anak-anak Anda. Selalu memperbarui komitmen dan berkomunikasi secara konsisten akan menghindarkan kalian dari risiko berselingkuh.

Sumber: VivaNews

Kamis, 08 Desember 2011

“102 dari 100 Ribu Ibu Melahirkan, Meninggal”

Pemerintah mengaku kesulitan untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan yang masih tergolong tinggi di Indonesia. Salah satu kendala utamanya adalah sulitnya para ibu hamil mendapatkan akses pelayanan kesehatan akibat faktor geografis dan budaya masyarakat setempat.

“Angka kematian ibu rata-rata 102 per 100 ribu kelahiran. Padahal salah satu indikator keberhasilan Millenium Development Goals (MDGs) adalah turunnya angka kematian ibu melahirkan. Namun itu sulit tercapai,” kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sendyaningsih di Yogyakarta, Jumat 21 Oktober 2011.

Menurut Endang, kesulitan untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan tidak saja terjadi di Indonesia, tapi hampir di semua negara di dunia ini. “Ada 4 faktor yang menyebabkan kematian ibu melahirkan, yakni terlalu tua saat hamil, terlalu muda untuk hamil, terlalu sering hamil, dan terlalu dekat jarak kehamilannya,” jelas Endang.

Oleh karena itu, ujar Menkes, akses pelayanan kesehatan untuk ibu hamil perlu ditingkatkan. Salah satu caranya, lanjut Endang, Kementerian Kesehatan kini menggalakkan pendidikan kesehatan reproduksi di kalangan siswa sekolah, mulai dari SD hingga SMA.

“Perlu ditanamkan norma dan budaya, bahwa menikah itu idealnya pada usia 24-25 tahun. Padahal, 20-30 persen perempuan Indonesia menikah di bawah usia 20 tahun, terlalu muda,” kata Menkes.

Menurutnya, Kemenkes saat ini juga telah memperkenalkan beberapa program untuk meningkatkan kesehatan ibu, seperti meningkatkan peran suami dalam perawatan kesehatan ibu, meluncurkan program kesehatan gender responsif, dan memperkenalkan skema bantuan sosial.

“Program ini memberikan pelayanan persalinan gratis, perawatan di fasilitas kesehatan, perawatan pasca persalinan, dan perawatan pasca persalinan, dan pelayanan keluarga berencana bagi semua ibu hamil yang tidak tercakup oleh asuransi kesehatan,” kata Endang.

Sumber: VivaNews

Rabu, 09 November 2011

Penyebab Mengidam Makanan Tertentu

Mengidam makanan tertentu bukan hanya dominasi wanita yang sedang hamil. Hampir semua orang pernah merasakan hasrat untuk menyantap makanan pada satu waktu. Saat keinginan makan makanan tertentu hadir, Anda kerap bertanya apa sebabnya?

Seperti dilansir dari SELF Magazine, terdapat pemicu eksternal yang membuat kita ketagihan camilan asin atau manis. Ketika Anda melihat iklan dengan gambar makanan mengugah selera atau mencium aroma makanan lezat saat melewati restoran atau bahkan mendengar suara orang memasak. Membayangkan kelezatan makanan maupun mencium aromanya bisa memunculkan keinginan benar-benar menikmatinya.

Tapi ada kalanya, seseorang ngidam makanan tertentu tanpa dipicu oleh faktor eksternal. Bila demikian, besar kemungkinan hal tersebut dipicu oleh faktor-faktor yang terkait emosi.

Stres
Jika Anda cenderung mengkonsumsi makanan tertentu setiap kali stres, berarti kemungkinan Anda melatih diri dalam waktu lama dengan makan ketika sedang stres. Sebuah studi menunjukkan bahwa hasrat tersebut dapat terjadi bahkan dalam rentang waktu 24 jam setelah sistem respons stres diaktifkan.

Trauma
Keinginan makan makanan tertentu dapat dipicu oleh faktor traumatis. Ketika Anda masih anak-anak, apakah orang tua Anda memberikan makanan tertentu saat Anda sakit, marah, dan sedih? Jika demikian, makanan adalah cara mencari kenyamanan, bahkan setelah Anda beranjak dewasa.

Tak hanya itu, faktor internal rasa nyaman atau rasa bersalah akibat gagal berdiet pun dapat menyebabkan ngidam pada makanan tertentu.

Faktor biologis
Jika keinginan tersebut muncul bukan karena faktor eksternal dan emosi, berarti ngidam yang Anda rasakan dipicu oleh faktor biologis.

Apakah Anda selalu ingin ngemil 4 jam setelah makan besar? Jika demikian, Anda mungkin mengalami keinginan untuk mengonsumsi makanan yang manis atau mengandung tepung karena kadar gula dalam darah menurun.

Mengalami imnosia pun dapat menyebabkan Anda ngidam makanan tertentu untuk menemani malam Anda. Lazimnya, Anda akan mengharapkan sesuatu yang manis dalam mulut.

Namun, hati-hati jika Anda selalu mengidam-idamkan es krim karena kemungkinan besar hal tersebut tanda dari pica, sebuah fenomena yang terjadi ketika orang mengalami anemia kekurangan zat besi. Jika Anda selalu mengalami ngidam cokelat, tubuh Anda mungkin sangat membutuhkan magnesium.

Setelah mengetahui jenis ngidam yang Anda alami, Anda akan dengan mudah mengatasinya sehingga tidak menjadi faktor pemicu kelebihan berat badan.

Sumber: VivaNews

Selasa, 01 November 2011

Tarif Listrik Naik, Siapa Untung dan Buntung?

Rencana pemerintah menaikan tarif dasar listrik sebesar 10 persen pada tahun 2012 ternyata belum mulus. Kementerian Keuangan masih harus menunggu hasil pembahasan antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan Komisi VII DPR yang baru berlangsung pada Januari 2012 mendatang.

"Keputusan TDL akan dibahas pada Januari 2012, menunggu review Kementerian ESDM dan dibahas oleh Komisi VII. Apakah akan ada kenaikan TDL, akan diputuskan disana," kata Wakil Menteri Keuangan Anni Ratnawaty di Jakarta, Senin 31 Oktober 2011.

Pemerintah dalam APBN 2012 telah mengalokasikan subsidi listrik sebesar Rp45 triliun. Anggaran itu turun 32,1 persen dari alokasi subsidi pemerintah pada APBN-Perubahan Tahun 2011, yang jumlahnya sebesar Rp66,33 triliun.

Anni menjelaskan, subsidi sebesar Rp45 triliun dalam APBN 21012 sudah memasukan asumsi kenaikan TDL sebesar 10 persen per April 2012. Dengan catatan, kenaikan TDL tidak dilakukan untuk pelanggan dengan daya listrik sebesar 450 Watt.

Rencana kenaikan tarif listrik tersebut disambut pro dan kontra di tengah masyarakat. Bukan hanya pengusaha yang mengaku terkena dampak dari kebijakan itu saja yang protes, kalangan politisi juga sudah siap menolak dan mempersoalkan manajemen pemerintah dalam ketenagalistrikan.

Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Imam secara tegas menolak rencana kenaikan TDL yang akan diberlakukan mulai April 2012 itu.

Kalangan pengusaha juga menilai bahwa menaikkan TDL di saat ekonomi belum menentu sungguh akan menyusahkan. Ketua Bidang Usaha Kecil Menengah (UKM) Himpunan Pengusaha Muda (Hipmi) Tri Harsono menegaskan bahwa rencana kenaikan TDL pada tahun depan akan menjadi beban beruntun yang harus dipikul pengusaha, khususnya pebisnis UKM.

Kenaikan TDL seharusnya, lanjut Tri, mestinya diarahkan agar kebijakan anggaran bisa berjalan lebih sehat dan berdampak pada peningkatan daya saing dunia usaha. Subsidi bisa dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur dan layanan publik.

Hipmi mencatat, setelah beberapa kali mengalami kenaikan listrik, industri kecil dan menengah (IKM) justru tidak merasakan kompensasi yang jelas. Akibatnya, beban pengusaha IKM ini justru meningkat tajam.

Tanggapan lebih netral disampaikan Presiden Direktur dan CEO PT Bakrieland Development Tbk, Hiramsyah Thaib. Menurut bos perusahaan properti ini, pemerintah sah-sah saja untuk menaikan TDL pada tahun 2012. Namun, tegas Hiramsyah, pemerintah juga harus memberikan solusi terhadap buruknya sarana infrastruktur penunjang serta pemberian insentif.

Hiramsyah malah khawatir, kenaikan TDL hanya akan membebani masyarakat secara keseluruhan. Dampak kenaikan TDL dikhawatirkan berpengaruh kepada makro ekonomi, di mana daya beli masyarakat yang bisa terganggu.

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai operator pelaksana kebijakan di bidang kelistrikan menegaskan bahwa perusahaan itu hanya mengikuti apapun keputusan yang diterbitkan oleh pemerintah.

"PLN tidak bisa menilai. Itu kebijakan pemerintah dan setiap negara mempunyai kebijakannya masing-masing. Itu tergantung politik dari masing-masing pemerintahan negara," kata Sekretaris Perusahaan PLN Ida Bagus G Mardawa ketika dihubungi VIVAnews.

Namun berdasarkan data yang ada, kata Mardawa, secara umum rata-rata tarif listrik di Indonesia merupakan yang termurah untuk kawasan Asia Tenggara. Apalagi untuk listrik rumah tangga, tarif listrik di Tanah Air paling murah dibandingkan negara seperti Singapura dan Malaysia.

Sebelum kenaikan tarif dasar listrik (TDL), tarif listrik rumah tangga di Indonesia sebesar Rp548 (per KwH), lebih murah dari Thailand sebesar Rp829, Vietnam Rp848, Hong Kong Rp1.307, Filipina Rp1.449, dan Singapura Rp1.453.

Sementara itu, untuk tarif listrik untuk industri sebetulnya tarif listrik Indonesia masih cukup kompetitif. Sebelum TDL industri dinaikkan, sektor industri di Indonesia membayar listrik Rp621 (per KwH), sementara Thailand Rp812, Malaysia Rp699, Vietnam Rp537, Filipina Rp1.551, dan Singapura Rp1.143.

"Listrik kita murah karena masih ada subsidi," kata Mardawa. Ketika ditanya pola yang paling ideal untuk kenaikan TDL, Mardawa lagi-lagi mengembalikan hal itu kepada pemerintah. Sebab, setiap pemerintah senantiasi memiliki kebijakan sendiri di bidang ketenagalistrikan. "Di Malaysia, sektor pertanian masih disubsidi. Jadi sangat sulit dibilang mana yang lebih baik dalam bidang tenaga listrik," ujarnya.

Sebagai informasi, Secara keseluruhan, dalam APBN 2012 total belanja subsidi pemerintah sebesar Rp208,9 triliun, lebih rendah dibandingkan APBN-P 2011 sebesar Rp237,2 triliun. Untuk subsidi energi dialokasikan Rp168,6 triliun, yaitu PLN Rp45 triliun dan sisanya untuk BBM sebesar Rp123,6 triliun.

Memang dengan anggaran subsidi yang mencapai ratusan triliun tersebut ,perlu disusun strategi yang pas dalam pengelolaan anggaran dan efisiensi listrik di tanah Air. Apalagi jika strategi itu bisa memunculkan alternatif kebijakan agar TDL tidak perlu naik.

Sohibul Imam mengusulkan dua solusi untuk menghindari kenaikan TDL tersebut. Pertama, dengan memasok gas untuk pembangkit listrik sebagaimana komitmen pemerintah. Solusi kedua, lanjut Sohibul, adalah konsistensi pemerintah dalam menyediakan kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik, sesuai dengan harga acuan batubara (Indonesian Coal Index).

Pemerintah sendiri terus berupaya berhemat dalam soal listrik ini. Anni Ratnawaty menegaskan bahwa salah satu cara untuk menghemat subsidi listrik adalah dengan menurunkan susut jaringan listrik (loses). Selain itu PLN diminta untuk meningkatkan pasokan gas dan batubara, menggantikan bahan bakar minyak, untuk pembangkit listrik PLN.

Menanggapi polemik perlu tidaknya kenaikan tarif listrik, pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menyatakan saat ini merupakan momen paling tepat untuk menaikan TDL. Pelaksanaan kenaikan TDL dinilai malah akan menguntungkan semua pihak.

"Ini momen terbaik, kalau tidak akan membebani APBN lebih besar lagi," katanya. Mengapa menjadi momen terbaik? Sebab, lanjut Aviliani, saat ini tidak ada kenaikan bahan pokok yang sangat signifikan. Situasi itu menyebabkan laju inflasi Indonesia dalam beberapa tahun belakangan cenderung rendah.

Bagi Aviliani, listrik untuk sebagian kalangan industri bukanlah komponen utama yang bisa mempengaruhi biaya produksi perusahaan. Hal ini berbeda dengan bahan bakar minyak (BBM) yang banyak menyedot anggaran perusahaan mengingat biaya trasnportasi yang bisa mencapai 15 persen.

Kalangan industri juga tidak bisa menggunakan dalih krisis ekonomi global yang menjadi alasan penundaan kenaikan tarif listrik. Justru dengan kenaikan TDL dan penghematan anggaran APBN sebesar Rp40 triliun, pemerintah bisa menggunakan dana efisiensi tersebut untuk pembangunan infrastruktur. "Sehingga industri bisa memiliki daya saing lebih baik," katanya.

Dari sisi rumah tangga, Aviliani menilai kenaikan tarif listrik justru akan memaksa masyarakat untuk melakukan upaya penghematan. Situasi itu juga akan mendorong kalangan industri untuk menggunakan sumber listrik yang bersumber dari pasokan sendiri.

"Perlu digerakan penghematan, dalam arti orang tidak lagi tergantung pada PLN. Tapi tentunya mereka harus memperoleh insentif," ujar Aviliani.

Kendati sepakat untuk kenaikan tarif listrik, Aviliani masih menilai subsidi tetap dibutuhkan oleh masyarakat yang menggunakan listrik dengan daya 450 watt. Sebagai masyarakat yang digolongkan dalam kategori miskin, pemberian subsidi masih mutlak dibutuhkan.

"Untuk level tertentu seperti 1.200 watt, tidak perlu subsidi karena dianggap sudah mampu," katanya. Naik atau tidak memang masih tergantung pada hasil rapat pemerintah dengan anggota dewan di Senayan.

Sumber: VivaNews

Minggu, 30 Oktober 2011

Perbanyak Teman Agar Otak Makin Besar

Jangan ragu untuk menambah teman di Facebook. Bukan hanya memperbesar jaringan pertemanan Anda, ada keuntungan lain yang bisa didapatkan. Faktanya, makin banyak teman di Facebook, makin besar otak Anda.

Hasil penelitian tim yang terdiri dari para ahli syaraf University College London menemukan ada korelasi antara jumlah teman di Facebook dengan ukuran area tertentu dalam otak.

Penelitian yang dipublikasi dalam Journal Proceedings of the Royal Society B Biological Sciences ini, melibatkan 125 mahasiswa yang aktif menggunakan Facebook.

Pemindaian otak pun dilakukan dan hasilnya berupa gambar kondisi otak secara detil. Diketahui, area otak seperti amigdala, yang terkait dengan keterampilan sosial, penalaran emosional dan pemahaman, terlihat lebih abu-abu pada mahasiswa yang memiliki banyak teman di Facebook.

"Situs jejaring sosial memiliki pengaruh besar, sekarang kami mengerti efeknya pada otak," kata Profesor Geraint Rees, salah satu peneliti, dikutip dari NY Daily News.

Kemungkinan besar, menurut Rees, ada faktor lain yang mendorong perubahan struktur otak dan ini berhubungan dengan jumlah teman. Meskipun efeknya tak terlalu besar namun bisa sedikit menjawab pertanyaan bagaimana efek internet pada otak.

"Signifikansinya memang tidak begitu banyak, tetapi memberikan kita cara untuk menjawab pertanyaan bagaimana internet adalah mengubah otak kita," kata Ryota Kanai, penulis utama studi ini.

Sumber: VivaNews

Banyak Waktu Luang, Bisa Bikin Stres

Banyak orang yang mengeluh karena sulit membagi waktu untuk pekerjaan, keluarga, dan diri sendiri. Namun, jangan menyiasatinya dengan memperbanyak waktu luang.

Itu karena efek terlalu banyak waktu luang sama dengan terlalu banyak bekerja, yaitu stres. Ini merupakan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan tim dari University of Cincinnati di Ohio dan Universitas Baylor.

Mereka menganalisis 1.329 remaja dengan mengajukan pertanyaan seputar berapa banyak waktu luang dan seberapa tingkat kebahagiaan mereka. Hasilnya, mereka yang berpikir hanya memiliki sedikit waktu luang memang merasa menyedihkan. Namun, mereka yang terlalu banyak waktu luang, justru kehilangan banyak kesempatan untuk mencoba hal baru.

"Apa yang lebih diinginkan, terlalu sedikit atau terlalu banyak waktu luang? Untuk menjadi bahagia, tempatkan keinginan itu di tengah-tengah," kata salah satu peneliti, dikutip dari Daily Mail.

Orang muda yang materialistis, menurut peneliti, hanya perlu waktu luang dengan jumlah yang tepat untuk merasa lebih bahagia. "Kita sekarang hidup dalam sebuah masyarakat di mana waktu adalah hal berharga. Faktanya, persepsi kurangnya waktu atau ditekan waktu, bisa menurunkan tingkat kebahagiaan," ujar peneliti.

Hasil penelitian menyimpulkan, hidup dengan pembagian waktu yang seimbang bukan hanya membuat Anda merasa lebih sejahtera dan tenang. Tapi, juga membantu mengurangi beberapa efek negatif dari hidup di tengah kondisi masyarakat konsumtif.

Sumber: VivaNews

Studi: Minuman Bersoda Tingkatkan Agresivitas

Remaja cenderung lebih agresif dan kasar jika mengonsumsi soft drink secara teratur. Berdasar penelitian Universitas Vermont, konsumsi minuman bersoda setidaknya lima kali dalam seminggu mampu mengubah perilaku seseorang menjadi lebih agresif atau kasar.

Seperti dilansir dari Female First, para peneliti mencoba mengamati perilaku beberapa remaja yang terbiasa mengonsumsi minuman bersoda.

Sebanyak 23 persen remaja yang minum satu kaleng minuman bersoda dalam seminggu menunjukkan perilaku buruk dengan keinginan membawa senjata. Tingkat agresivitas melonjak pada 43 persen remaja yang mengonsumsi 14 kaleng seminggu.

Semakin banyak minuman bersoda yang dikonsumsi, semakin banyak pula angka kejadian kekerasan terhadap teman sebaya. Hal ini dapat dilihat dari lonjakan angka kejadian kekerasan dari 35 persen menjadi 58 persen pada kelompok remaja yang sama.

"Kami melihat bahwa peningkatan konsumsi soft drink dapat meningkatkan tingkat kekerasan terhadap teman-teman sebaya mereka," ujar penulis studi Dr Sara Solnick.

Namun sayang, mereka belum mengetahui dengan jelas hubungan antara minuman bersoda dan perilaku buruk remaja. "Kami belum mengetahui alasan di balik itu. Sulit mengatakan ini karena kandungan gula di dalam soft drink, karena gula juga terkandung dalam banyak produk. Mungkin ada bahan lain di dalam soft drink yang menjadi faktor penyebabnya."

Meski demikian, penelitian yang diterbitkan oleh Injury Prevention masih harus dibuktikan lagi kebenarannya dengan penelitian yang lebih lengkap. Pasalnya, penelitian tersebut tidak memperhitungkan pendapatan keluarga dan pola asuh, sehingga informasi yang didapat masih sangat terbatas.

Sumber: VivaNews

Senin, 24 Oktober 2011

Kanker Payudara Pria Lebih Mematikan

Kanker payudara tak hanya mengintai wanita. Meski risiko mengalaminya kecil, pria yang mengidap kanker payudara cenderung memiliki tingkat keparahan lebih tinggi dibandingkan wanita penderita kanker payudara.

Penelitian yang dipimpin Mikael Hartman dari Universitas Nasional Singapura mengatakan, meski peluang pria mengidap kanker payudara tak sampai satu persen, namun bagi yang sudah mengidapnya, risiko kematiannya sangat tinggi.

Hartman dan timnya menganalisis data kasus kanker tahun 1970 di Denmark, Finlandia, Norwegia, Swedia, Singapura, Jenewa, dan Swiss. Data itu meliputi 460 ribu wanita dan 2.700 pria pengidap kanker payudara.

Berdasar analisis data tersebut, jumlah pria yang mampu bertahan dari penyakit tersebut selama lima tahun pascadiagnosis sebanyak 72 persen. Angka itu lebih sedikit dibandingkan jumlah wanita yang mampu bertahan sebanyak 78 persen.

"Pria umumnya baru menyadari ada benjolan di payudaranya melalui pemeriksaan tidak langsung saat memeriksakan diri ke dokter, berbeda dengan wanita yang lebih dini menyadari ada masalah di payudaranya," kata Hartman kepada Reuters.

"Kanker payudara pada pria memang jarang, tapi risiko itu tetap ada. Jadi jika pria mendapati benjolan atau sesuatu yang tak beres dengan payudaranya, harus segera memeriksakan diri ke dokter," Hartman menambahkan.

Dalam paparan di Jurnal Onkologi Klinik, tim peneliti mengatakan bahwa pria umumnya membutuhkan waktu beberapa bulan sebelum menyadari gejala kanker payudara. Penyebab umum adalah peningkatan hormon estrogen akibat penyakit tertentu atau ketidaknormalan gen.

Institut Kanker Nasional Amerika Serikat menunjukkan data bahwa mayoritas pria yang mengidap kanker payudara berusia 60-70 tahun. "Tidak mengherankan jika pria yang menderita kanker umumnya sudah berada pada stadium lanjut," kata Susan Dent dari Rumah Sakit Pusat Kanker, Ottawa, Kanada.

Sumber: VivaNews

Anggaran Jamkesmas Minim, Dinkes Utang ke RS

Meningkatnya jumlah masyarakat yang kurang mampu menggunakan Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) di Kabupaten Sukabumi, membuat dinas kesehatan setempat menunggak ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).

“Untuk tahun ini memang masih ada tunggakan ke beberapa rumah sakit, baik yang ada di Sukabumi maupaun di luar Kabupaten Sukabumi," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi dr. Adrialty, di Sukabumi, Senin 24 Oktober 2011. Hal itu, kata dia, karena minimnya anggaran yang dialokasikan oleh pihak pemerintah daerah terhadap dinas kesehatan.

Ia menambahakan, untuk tahun 2011 Dinkes hanya menerima anggaran Rp15 miliar. Jumlah ini dengan rincian dari pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi Rp10 miliar, dan bantuan dari pemerintah Provinsi Jawa Barat sebesar Rp5 miliar.

“Jumlah anggaran hanya cukup untuk sampai bulan Oktober saja. Sisanya kita harus pintar pintar mengefisiensikan yang ada,” ujarnya.

Untuk pelayanan Jamkesda idealnya Dinkes harus memiliki anggaran Rp20 miliar. Pertimbangannya, pelayanan Jamkesda setiap bulan mencapai Rp1,5 miliar. Penyiasatan sistem anggaran masih terus dilakukan, namun hal ini tak bisa menutupi jumlah tunggakan dari RSUD ke Dinkes. “Kita berharap ada tambahan anggaran,” ujarnya.

Dinkes terus mengefisiensikan anggaran yang ada, dan memperketat seleksi pemegang Jamkesda. Disinyalir ada masyarakat yang masih tergolong mampu namun menggunakan Jamkesda. Fasilitas itu hanya untuk masyarakat yang tidak mampu.

Masih banyak pendistribusian Jamkesda salah sasaran. Salah distribusi ini dicurigai terletak pada mekanisme administrasi. Misalnya, Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) kerap dimanfaatkan oleh orang tertentu yang tak layak. Tak efisiennya mekanisme rujukan, serta belum jelasnya pengaturan limitasi pembiayaan pada pasien dijamin oleh Jamkesda, memperbesar beban Dinkes.

Sumber: VivaNews

Minggu, 23 Oktober 2011

Pembangunan Kesejahteraan Sosial di Indonesia Upaya Menangani Permasalahan Sosial Kemiskinan

H. Bachtiar Chamsyah
Menteri Sosial Republik Indonesia

Pembangunan sosial di Indonesia, hakekatnya merupakan upaya untuk merealisasikan cita-cita luhur kemerdekaan, yakni untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pasca kemerdekaan, kegiatan pembangunan telah dilakukan oleh beberapa rezim pemerintahan Indonesia. Mulai dari rezim Soekarno sampai presiden di era ini yakni Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono yang terpilih dalam pemilihan umum langsung pertama.

Namun demikian, harus diakui setelah beberapa kali rezim pemerintahan berganti, taraf kesejahteraan rakyat Indonesia masih belum maksimal. Pemenuhan taraf kesejahteraan sosial perlu terus diupayakan mengingat sebagian besar rakyat Indonesia masih belum mencapai taraf kesejahteraan sosial yang diinginkannya. Upaya pemenuhan kesejahteraan sosial menyeruak menjadi isu nasional. Asumsinya, kemajuan bangsa ataupun keberhasilan suatu rezim pemerintahan, tidak lagi dilihat dari sekedar meningkatnya angka pertumbuhan ekonomi. Kemampuan penanganan terhadap para penyandang masalah kesejahteraan sosial pun menjadi salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Seperti penanganan masalah;Â kemiskinan, kecacatan, keterlantaran, ketunaan sosial maupun korban bencana alam dan sosial.Â

Kemajuan pembangunan ekonomi tidak akan ada artinya jika kelompok rentan penyandang masalah sosial di atas, tidak dapat terlayani dengan baik. Bahkan muncul anggapan jika para penyandang masalah sosial tidak terlayani dengan baik, maka bagi mereka “kemerdekaan adalah sekedar lepas dari penjajahan�?. Seharusnya “kemerdekaan adalah lepas dari kemiskinan�?.

Untuk itu pembangunan bidang kesejahteraan sosial terus dikembangkan bersama dengan pembangunan ekonomi. Tidak ada dikotomi di antara keduanya. Hal ini selaras dengan apa yang dikemukakan Nancy Birdsal (1993) yang mengatakan bahwa pembangunan ekonomi adalah juga pembangunan sosial. Tidak ada yang utama diantara keduanya. Pembangunan ekonomi jelas sangat mempengaruhi tingkat kemakmuran suatu negara, namun pembangunan ekonomi yang sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar, tetap tidak akan mampu menjamin kesejahteraan sosial pada setiap masyarakat. Bahkan pengalaman negara maju dan berkembang seringkali memperlihatkan jika prioritas hanya difokuskan pada kemajuan ekonomi memang dapat memperlihatkan angka pertumbuan ekonomi. Namun sering pula gagal menciptakan pemerataan dan menimbulkan menimbulkan kesenjangan sosial. Akhirnya dapat menimbulkan masalah kemiskinan yang baru. Oleh karenanya penanganan masalah kemiskinan harus didekati dari berbagai sisi baik pembangunan ekonomi maupun kesejahteraan sosial.Â

Kemiskinan Sebagai Isu Global
Masalah kemiskinan dewasa ini bukan saja menjadi persoalan bangsa Indonesia. Kemiskinan telah menjadi isu global dimana setiap negara merasa berkepentingan untuk membahas kemiskinan, terlepas apakah itu negara berkembang maupun sedang berkembang.

Tokoh yang dianggap bapak ilmu ekonomi modern, Adam Smith pada saat meluncurkan buku babonnya An Inquiry into The Wealth of Nations tahun 1776 menyebut bahwa, “Tidak ada masyarakat yang benar-benar bisa berkembang dan senang apabila kebanyakan diantaranya miskin dan tidak bahagia�?. Tokoh ekonomi pembangunan Todaro dalam buku Economic Development (2003), menyebutkan bahwa kemiskinan dan kesenjangan merupakan permasalahan utama pembangunan. Tokoh sosial lainnya Juan Somavia dalam United Nations World Summit for Social Development, tahun 1995 menyatakan bahwa persoalan yang tidak akan pernah selesai di abad 21 ini adalah bagaimana mengurangi kemiskinan.

Negara sedang berkembang di sebagian wilayah Asia dan Afrika, sangat berurusan dengan agenda pengentasan kemiskinan. Sebagian besar rakyat di kawasan ini masih menyandang kemiskinan. Sementara bagi negara maju, mereka pun sangat tertarik membahas kemiskinan. Ketertarikan itu karena kemiskinan di negara berkembang berdampak pada stabilitas ekonomi dan politik mereka.

Pada akhirnya kemiskinan menjadi “urusan�? semua bangsa dan menjadi “musuh utama�? (common enemy) umat manusia di dunia. Konsekuensinya kemiskinan dibahas semakin meluas intensif dan berkesinambungan dimanapun dan oleh siapapun.

Menurut laporan Human Development Report tahun 2005, jumlah penduduk miskin terbesar di Asia Tenggara adalah di Indonesia, yaitu sebesar 38,7 juta orang diikuti oleh Vietnam (17,38), Kamboja (13,01), dan Myanmar (10,84). Tingginya tingkat kemiskinan Indonesia, membuat negara ini memiliki kualitas sumber daya manusia (SDM) yang masih rendah. Dari data Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/HDI), Indonesia menempati urutan 110, lebih rendah dibanding negara di Asia Tenggara lainnya seperti Singapura (25), Brunei (33), Malaysia (61), Thailand (73), dan Filipina (84).

Komitmen Global
Komitmen dunia untuk mengurangi kemiskinan telah diungkapkan. Terutama oleh Kofi Anand yang pada waktu itu masih memimpin PBB dalam kesempatan sebuah sidang umum. Laporannya yang berjudul “untuk kebebasan yang lebih besar�? kemudian ditindaklanjuti dengan Gerakan Panggilan Global untuk Memerangi Kemiskinan atau dikenal dengan “Global Call to Action Against Poverty�?

Selanjutnya ketika kemiskinan sudah dianggap sebagai musuh utama, PBB berkepentingan membuat agenda melawan kemiskinan. Di milenium kedua PBB mempelopori pertemuan tingkat tinggi yang menghasilkan “Tujuan Pembangunan Milenium (TPM)�? atau dikenal dengan “Millenium Development Goals (MDGs)�?. TPM/MDGs telah disepakati oleh para pemimpin dunia dalam KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) Milenium pada September 2000.

Tujuan Pembangunan Milenium (TPM) antara lain memuat komitmen komunitas internasional terhadap pengembangan visi pembangunan. TPM terdiri dari 8 (delapan) butir kesepakatan. Antara lain (1) Menghapuskan tingkat kemiskinan dan kelaparan; (2) Mencapai pendidikan dasar secara universal; (3) Mendorong kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan; (4) Mengurangi tingkat kematian anak; (5) Meningkatkan Kesehatan Ibu; (6) Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya; (7) Menjamin keberkelanjutan lingkungan; dan (8) Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.

TPM/MDGs mendorong pemerintah, lembaga donor dan organisasi masyarakat sipil di manapun untuk mengorientasikan kembali kerja-kerja mereka untuk mencapai target-target pembangunan yang spesifik, beserta tenggat waktunya yang terukur guna mencapai 8 tujuan pembangunan milenium dimaksud.

Dari kedelapan butir TPM atau MDGs ini, isu kemiskinan menempati butir paling pertama. Dalam hal ini, pemberantasan kemiskinan di dunia mentargetkan pada tahun 2015 untuk mengurangi setengah dari penduduk dunia yang berpenghasilan kurang dari 1 US$ sehari dan mengalami kelaparan. Hal ini membuktikan masalah kemiskinan sebagai masalah utama dunia. Namun demikian bukan berarti ke tujuh butir lainnya tidak berhubungan dengan kemiskinan. Justru kemiskinan diasumsikan menjadi fokus utama yang harus ditanggulangi sebagai prasyarat tercapainya butir tujuan pembangunan milenium yang lain.

Indonesia berkepentingan dengan keberhasilan MDGs. Selain karena tujuh nilai dasar dari MDGs sudah menjadi amanat konstitusi negara (Pembukaan UUD 1945). Nilai dasar 1-2 MDGs tersebut masing-masing berbunyi menanggulangi kemiskinan dan kelaparan, mencapai pendidikan dasar bagi semua, sesuai dengan Pembukaan UUD 45 yang berbunyi ; mewujudkan kesejahteraan umum dan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Sedangkan nilai dasar ke 3-5 mendorong kesetaraan gender, menurunkan angka kematian dan meningkatkan kesehatan ibu dan anak, memerangi penyakit HIV/AIDS dan penyakit menular lainnya, sesuai dengan pembukaan UUD 45 yang berbunyi melindungi segenap bangsa Indonesia. Sementara nilai dasar ke 6-7 melestarikan lingkungan, mengembangkan kemitraan global, sesuai dengan Pembukaan UUD 45 berbunyi “menjaga dan melaksanakan ketertiban dunia�?. Juga karena triple track program Pemerintahan Kabinet Indonesia Bersatu sejalan dengan tujuh nilai dasar MDGs tadi yakni pengurangan pengangguran dari 10 % menjadi 6 %, pengurangan jumlah penduduk miskin dari 16 % menjadi 8 %, dan meningkatkan pertumbuhan dari 4 % menjadi 8 % pada tahun 2009.


Tanggung Jawab Siapa Penanggulangan Kemiskinan ?
Berkaitan dengan penanganan kemiskinan di era global, maka sering timbul pertanyaan mengenai tanggung jawab dalam penanggulangan kemiskinan. Pertanyaan ini sering menyeruak ke permukaan karena memang format penanganan masalah kemiskinan di berbagai dunia sangat bervariasi. Jika dikaitkan dengan model sistem kesejahteraan sosial di berbagai negara, sedikitnya kita mengenal empat model sistem (yang didasarkan pada alokasi anggaran) untuk kesejahteraan sosial yakni:

Pertama, model universal yang dianut oleh negara-negara Skandinavia, seperti Swedia, Norwegia, Denmark dan Finlandia. Dalam model ini, pemerintah menyediakan jaminan sosial kepada semua warga negara secara melembaga dan merata. Anggaran negara untuk program sosial mencapai lebih dari 60% dari total belanja negara.

Kedua, model institusional yang dianut oleh Jerman dan Austria. Seperti model pertama, jaminan sosial dilaksanakan secara melembaga dan luas. Akan tetapi kontribusi terhadap berbagai skim jaminan sosial berasal dari tiga pihak (payroll contributions), yakni pemerintah, dunia usaha dan pekerja (buruh).

Ketiga, model residual yang dianut oleh AS, Inggris, Australia dan Selandia Baru. Jaminan sosial dari pemerintah lebih diutamakan kepada kelompok lemah, seperti orang miskin, cacat dan penganggur. Pemerintah menyerahkan sebagian perannya kepada organisasi sosial dan LSM melalui pemberian subsidi bagi pelayanan sosial dan rehabilitasi sosial “swasta�?.

Keempat, model minimal yang dianut oleh gugus negara-negara latin (Prancis, Spanyol, Yunani, Portugis, Itali, Chile, Brazil) dan Asia (Korea Selatan, Filipina, Srilangka). Anggaran negara untuk program sosial sangat kecil, di bawah 10 persen dari total pengeluaran negara. Dengan catatan, kecilnya anggaran kesejahteraan sosial untuk negara-negara Asia Tenggara dan Selatan nampaknya terkait erat dengan keterbatasan anggaran negara secara keseluruhan.

Dalam pembangunan kesejahteraan sosial, Indonesia jelas tidak sepenuhnya menganut negara kesejahteraan. Meskipun Indonesia menganut prinsip keadilan sosial (sila kelima Pancasila) dan secara eksplisit konstitusinya (pasal 27 dan 34 UUD 1945) mengamanatkan tanggungjawab pemerintah dalam pembangunan kesejahteraan sosial, namun letak tanggung jawab pemenuhan kebutuhan kesejahteraan sosial adalah tanggung jawab seluruh komponen bangsa. Prinsip keadilan sosial di Indonesia terletak pada usaha secara bersama seluruh komponen bangsa dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Sehingga tidak ada yang paling utama dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Pembangunan sosial adalah tanggung jawab pemerintah, juga masyarakat, dunia usaha dan komponen lainnya. Konsekuensinya harus terjadi saling sinergi dalam penanganan masalah sosial antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha bahkan khususnya perguruan tinggi sebagai pencetak kader bangsa.

Demikian halnya dalam penanganan kemiskinan. Jika kita merujuk kembali pada persoalan penanggulangan kemiskinan, maka dalam kesempatan ini saya ingin mengemukakan bahwa “penanggulangan kemiskinan adalah tanggung jawab bersama�?. Adalah keliru jika meletakkan tanggung jawab itu hanya pada pundak pemerintah atau hanya pada masyarakat. Pemerintah membuka tangan lebar-lebar bagi siapapun komponen bangsa untuk terlibat dalam pembangunan kesejahteraan sosial. Melakukan usaha kesejahteraan sosial khususnya untuk menangani masalah sosial kemiskinan.

Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia
Seiring dengan kesepakatan berbagai bangsa untuk “mengusir�? kemiskinan maka Indonesia tidak ketinggalan ikut serta mengagendakan pengurangan kemiskinan. Terdapat berbagai program pemerintah yang ditujukan untuk mengentaskan penyandang masalah kemiskinan. Departemen Sosial semenjak berdirinya republik ini, tidak pernah absen dalam upaya pengurangan kemiskinan.  Bahkan sejak saya menjabat sebagai Menteri Sosial, saya pun telah mengemukakan lima permasalahan sosial pokok yang harus ditangani Pemerintah (Depsos) antara lain masalah kemiskinan, kecacatan, ketunaan, keterlantaran dan korban bencana baik alam dan sosial. Tanpa meremehkan masalah lainnya, saya melihat masalah kemiskinan adalah masalah yang paling “urgent�?. Kemiskinan merupakan akar dari semua masalah sosial. Akar dari masalah pembangunan bangsa.

Oleh karena itu selaras dengan prioritas dan kesepakatan dunia. Maka program Departemen Sosial juga menempatkan kemiskinan sebagai prioritas utama yang harus ditangani. Alokasi Anggaran Departemen Sosial tahun 2006 lebih dari 2,2 triliun rupiah, telah dialokasikan pada 5 kelompok sasaran dimana alokasi terbesar untuk kemiskinan, lebih dari Rp. 566 milyar. Keterlantaran Rp 207 milyar. Kecacatan Rp 54 milyar. Ketunaan sosial 41 milyar dan bencana alam dan sosial Rp. 500 milyar.

Dalam pengurangan kemiskinan, kepercayaan pemerintah juga makin diberikan kepada Departemen Sosial sebagai penanggung jawab anggaran program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang disalurkan langsung kepada penduduk miskin beberapa waktu lalu. Program itu kini berganti menjadi Bantuan Tunai Bersyarat (BTB) dengan nama: Program Keluarga Harapan (PKH).

Ketika itu, program SLT banyak menimbulkan pro dan kontra. Namun harus pula diakui bahwa program itu telah berhasil dilihat dari sisi ; Pertama ; berhasil menjaga si miskin tidak “goncang/panik�? menghadapi kenaikan harga BBM. Bahkan ia menjadi tenang ketika ia mendapatkan “sedikit harapan�? dari bantuan SLT. Jika diasumsikan hanya untuk pengganti konsumsi BBM saja (bukan untuk konsumsi lainnya), uang rp 100/bulan cukup memadai bagi mereka. Kedua ; behasil memberikan pertolongan secara cepat, tanpa prosedur berbelit. Ketiga ; membuktikan kepercayaan Pemerintah kepada rakyat untuk menerima secara langsung dan menggunakan dananya sesuai kebutuhan.

Kita berharap Program BTB PKH sekarang ini mampu menjadi koreksi terhadap SLT sehingga pertolongan darurat kepada si miskin semakin mengena pada tujuan yang diharapkan.

Pemberdayaan Dalam Pengentasan Kemiskinan
Di balik kegiatan rutin sebagai penanggung jawab penanganan permasalahan kemiskinan di Indonesia, Departemen Sosial juga berupaya mengemas penanganannya secara sistematis sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan dan profesinalisme. Disadari betapa kompleksnya permasalahan sosial baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga dalam penanganannya, tidak hanya mengandalkan “rasa belas kasihan semata�? namun perlu diarahkan secara sistematis, profesional dan berkesinambungan.

Sebagai konsekuensinya, pendekatan Departemen Sosial dalam menelaah dan menangani kemiskinan sangat dipengaruhi oleh perspektif ilmu dan profesi pekerjaan sosial. Pekerjaan sosial oleh Brenda Dubois dan Karl Krogsrud Miley (1997) disebutkan termasuk sebagai profesi pemberdayaan. Terdapat delapan domain yang menjadi lingkup garapan profesi pekerjaan sosial sebagai profesi pemberdayaan, yaitu: (1) Street-level services; (2) The Great society programs; (3) The poor; (4) the Homeless; (5) The unemployed; (6) Criminal offenders; (7) Crime and Funishment; (8) The criminal justice system.  Adapun domain “the poor�?, “the homeless�? dan “the unemployed�? sangat berhubungan dengan karakteristik kemiskinan di Indonesia.

Oleh karena itu, tidak cukup hanya “charity�? maka selanjutnya harus diikuti dengan langkah “pemberdayaan�? dalam penanganan kemiskinan guna memperkuat keberfungsian sosial seseorang. Pendekatan pemberdayaan sosial adalah salah satu pendekatan dari sekian banyak pendekatan profesi pekerjaan sosial dalam menangani permasalahan sosial. Pemberdayaan sosial lebih ditonjolkan karena didalamnya terkandung dua aspek yakni (1) penentuan nasib sendiri dimana si miskin bebas menentukan solusi pemecahan masalahnya. Dan (2) pekerja sosial hanya menjadi fasilitator sedangkan pelakunya tetap kelayan/masyarakat pelaku pembangunan. Hal ini sesuai dengan prinsip pekerjaan sosial yang “bekerja dengan kelayan�? (work with client) bukan “untuk kelayan�? (work for client). Pekerja sosial memandang masalah dari titik pandang kelayan sehingga pekerja sosial tidak memaksakan kehendaknya dalam memberikan pertolongan. Dalam terminologi lain, kelayan juga dikenal sebagai fasilitator, dinamisator, motivator, tenaga penyuluh. Istilah yang akhir-akhir ini digunakan adalah konsultan pendamping.

Pemberdayaan (empowerment) mempunyai beberapa pengertian. Menurut Merriam Webster dan Oxford English Dictionary kata empower mengandung dua arti. Pertama adalah pengertian “to give ability to�? or “to enable�? yaitu memberi kekuasaan, mengalihkan kekuatan atau mendelegasikan otoritas pada fihak lain. Sedangkan dalam pengertian kedua diartikan sebagai upaya memberi kemampuan dan keberdayaan. Memberi daya dimana daya ini dimaksimalkan sebagai “daya hidup mandiri�?. Selanjutnya A.M.W. Pranarka dan Vidhyadika Moelyarto menempatkan konsep pemberdayaan atau empowerment sebagai bagian dari “upaya membangun eksistensi pribadi, keluarga, masyarakat bangsa, pemerintah, negara dan tata dunia dalam kerangka proses aktualisasi kemanusiaan yang adil dan beradab sehingga konsep pemberdayaan pada dasarnya, upaya menjadikan suasana kemanusiaan yang adil dan beradab�?. Dengan demikian konsep keberdayaan pada dasarnya adalah upaya menjadikan suasana kemanusiaan yang adil dan beradab yang semakin efektif secara struktural dalam bidang politik, sosial, budaya dan ekonomi baik di dalam kehidupan keluarga, masyarakat, negara, regional maupun internasional.

Hulme dan Turner (1990) berpendapat bahwa pemberdayaan mendorong terjadinya suatu proses perubahan sosial yang memungkinkan orang-orang pinggiran yang tidak berdaya untuk memberikan pengaruh yang lebih besar di arena politik secara lokal maupun nasional. Oleh karena itu pemberdayaan sifatnya individual sekaligus kolektif. Pemberdayaan juga merupakan suatu proses yang mengangkat hubungan kekuasaan/kekuatan yang berubah antara individu, kelompok dan lembaga-lembaga sosial.

Adapun konteks keterberdayaan itu dapat mencakup (1) Perubahan sikap ; masyarakat miskin didorong, dibimbing dan dibantu kearah perilaku prososial yang normatif. (2) Peningkatan partisipasi sosial; Masyarakat yang merupakan sasaran kebijakan kesempatan turut berpartisipasi, bukan saja dalam hal mengambil keputusan-keputusan khusus, tetapi juga dalam hal merumuskan definisi situasi yang merupakan dasar dalam pengambilan keputusan. Sehingga arah pembangunan menjadi berpihak pada masyarakat khususnya masyarakat miskin. (3) Solidaritas sosial ; pemberdayaan sosial mampu menciptakan suatu kondisi atau keadaan hubungan antara individu/kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang dianut bersama serta diperkuat oleh pengalaman emosional bersama.(4) Peningkatan kondisi ekonomi warga masyarakat ; melalui pemberdayaan sosial diharapkan terjadi peningkatan kondisi ekonomi dan peningkatan pendapatan warga,  khususnya warga miskin. (5) Peningkatan pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga miskin ; lembaga keluarga miskin adalah juga sasaran pokok dalam pengentasan kemiskinan yang tujuannya untuk mengembalikan fungsi keluarga yang diharapkan, dimana fungsi ini semakin memudar seiring dengan ketidakmampuan menampilkan fungsi sosial warga miskin (6) Perubahan orientasi nilai budaya ; dari keseluruhan aspek pemberdayaan dalam rangka pengentasan kemiskinan, maka perubahan orientasi nilai budaya menjadi muaranya yang tentunya memerlukan proses yang tidak mudah. Perubahan dari sifat warga miskin seperti, apatis, malas, masa bodoh, menghalalkan segala cara, menuju pada orientasi nilai budaya yang prososial menjadi tujuan utama pada pengentasan kemiskinan.

Implementasi Pemberdayaan Melalui KUBE dan LKM
Di atas telah dikemukakan secara teoritis tentang pentingnya pemberdayaan dalam mengatasi kemiskinan. Selanjutnya secara praktis, Departemen Sosial melakukan penanganan kemiskinan melalui program reguler pemberdayaan masyarakat miskin seperti bantuan kelompok usaha bersama (KUBE) serta program terobosan melalui kerjasama yang melibatkan orsos dan LSM serta dunia usaha. Bahkan KUBE sudah lama dikenal dan menjadi trade mark Departemen Sosial.

Mengapa melalui kegiatan kelompok? karena Departemen Sosial melihat penyandang masalah kemiskinan sebagai orang yang mengalami disfungsi sosial (social disfunctions). Artinya ia harus dirubah menjadi berfungsi sosial yakni mampu menampilkan peran dan fungsi sosialnya dalam masyarakat. Si miskin tidak semata-mata ditingkatkan ekonominya tetapi yang lebih penting ia dilatih diberdayakan dalam wadah kelompok untuk mampu berperan dalam lingkungan sosialnya.

Oleh karena itu dalam kelompok KUBE paling tidak dua unsur yang selalu ditekankan yaitu: Pertama keuntungan ekonomis dan kedua, keuntungan sosial. Unsur pertama lebih menekankan pada keuntungan ekonomis dari perguliran hasil usaha yang diterima melalui paket bantuan “usaha ekonomis produktif (USEP)�? sedangkan unsur kedua lebih menekankan pada terjadinya interaksi sosial, kesetiakawanan sosial, kohesi sosial dan adhesi sosial antar anggota kelompok KUBE maupun dalam lingkungan sosialnya. Keuntungan ekonomis dengan mudah dapat dihitung tetapi keuntungan sosial memerlukan proses waktu untuk melihat keberhasilannya.

Sementara itu, KUBE terus diberdayakan secara berkelanjutan. Asumsinya adalah: jika KUBE telah berhasil dari sisi ekonomi dan sosial, diharapkan KUBE tersebut berkembang menjadi sebuah Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang menjangkau pelayanan kepada penyandang miskin lainnya untuk berkembang. LKM berfungsi membantu masyarakat miskin dalam melaksanakan usaha ekonomis produktif. LKM juga menjadi sarana menanggulangi kemiskinan. Melalui KUBE dan LKM maka hal ini berarti mendidik memberi “pancing�? dan tidak sekedar memberi “ikan�? pada si miskin. Pengalaman menunjukkan, bila bantuan yang kita berikan salah, justru akan mematikan kemandirian, inisiatif dan menimbulkan ketergantungan bagi si miskin.

Bantuan yang diberikan harus mampu merangsang pengembangan potensi si miskin untuk mampu berfungsi sosial. Modal ke arah itu sudah ada. Pada dasarnya mereka penyandang kemiskinan adalah “the have little�?, mereka memiliki sesuatu meski sedikit. Entah tenaga, tradisi gotong royong, tanah, famili dan lain-lain. Kebanyakan dari mereka adalah pekerja (keras), namun produktivitasnya sangat rendah. Acapkali jam kerjanya tak terbatas, namun penghasilannya tetap minim, usahanya kurang berkembang dan hanya bertahan pada tingkat subsistensi. Mereka umumnya sekedar untuk dapat hidup/untuk makan.

Dalam terminologi World Bank orang miskin demikian disebut economically active poor atau pengusaha mikro. Dan meninjau struktur konfigurasi ekonomi Indonesia secara keseluruhan, dari 39,72 juta unit usaha yang ada, sebanyak 39,71 juta (99,97%) merupakan usaha ekonomi rakyat atau sering disebut usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Dan bila kita menengok lebih dalam lagi, usaha mikro merupakan mayoritas, sebab berjumlah 98% dari total unit usaha atau 39 juta usaha (Tambunan, 2002 dalam Bambang Ismawan, Jurnal Ekonomi Rakyat, 2006).

Terminologi economically active poor dalam pembahasan BPS disebut dengan kelompok miskin produktif (15-55 tahun). Untuk lebih meningkatkan efektivitas program penanggulangan kemiskinan maka penduduk miskin dikelompokkan kedalam 3 (tiga) kategori, yaitu (a) Usia lebih dari 55 tahun, yaitu kelompok masyarakat yang tidak lagi produktif (usia sudah lanjut, miskin dan tidak produktif), untuk kelompok ini program pemerintah yang dilaksanakan bersifat pelayanan sosial; (b) usia di bawah 15 tahun, yaitu kelompok masyarakat yang belum produktif (usia sekolah, belum bisa bekerja), program yang dilaksanakan bersifat penyiapan sosial; dan (c) Usia antara 15-55 tahun, yaitu usia sedang tidak produktif (usia kerja tetapi tidak mendapat pekerjaan, menganggur), program yang dilaksanakan bersifat investasi ekonomi, kelompok inilah yang seharusnya menjadi sasaran utama penanggulangan kemiskinan.

Kiranya formula KUBE dan LKM sangatlah tepat. Melalui KUBE dan LKM si Miskin diharapkan dapat berdikari. Kemandirian itu tercipta karena 1) mereka telah mempunyai kegiatan ekonomi produktif sehingga kebutuhannya adalah pengembangan dan peningkatan kapasitas bukan penumbuhan, sehingga lebih mudah dan pasti; 2) apabila kelompok ini diberdayakan secara tepat, mereka akan secara mudah berpindah menjadi sektor usaha kecil; 3) secara efektif mengurangi kemiskinan yang diderita oleh mereka sendiri, maupun membantu penanganan rakyat miskin kategori fakir miskin, serta usia lanjut dan muda.

Dengan makin banyaknya masyarakat miskin yang tertampung dalam program penanggulangan kemiskinan melalui pendekatan KUBE, maka semakin banyak pula penyandang miskin yang mempunyai harapan untuk terentas dari kubangan kemiskinan. Pada akhirnya dengan makin banyaknya KUBE-KUBE dan LKM yang berhasil, maka hal itu berarti membantu memulihkan kondisi masyarakat dari kondisi miskin menjadi masyarakat yang berkesejahteraan sosial.


Penutup
Penanganan kemiskinan memerlukan keterlibatan semua fihak. Lintas fungsi maupun lintas sektor. Oleh karena itu, upaya sinergi perlu terus dilakukan agar tidak terjadi saling tumpang tindih dalam penanganannya. Tentunya langkah awal ke arah itu dapat dilakukan dengan mendasarkan pada data penyandang miskin yang riil dan valid.

Dalam hal ini Departemen Sosial telah merintis data penyandang miskin lengkap tercantum nama dan alamatnya “by name - by address�?, Data ini merupakan hasil olah sahih data SLT terdahulu. Kita berharap data ini menjadi acuan semua pihak yang berkepentingan dalam penanganan masalah kemiskinan sehinga penanganannya lebih terpadu, terarah dan mampu mengurangi jumlah penduduk miskin.

Dengan tersedianya data yang jelas dan akurat diharapkan mampu merangsang keterlibatan seluruh komponen bangsa untuk terlibat aktif dalam penanganan kemiskinan. Semoga segala upaya kita menangani kemiskinan semakin hari semakin mampu membawa pada kejayaan bangsa

Sumber: setneg

Mensos: Masalah Sosial Di Indonesia Lebih Kompleks

Sejumlah menteri sosial dan budaya dari negara ASEAN bergandengan tangan saat sesi foto bersama pada pembukaan sidang pertemuan para menteri ASEAN Socio-Cultural Community Council (ASCC) atau Dewan Komunitas Sosial Budaya ASEAN, di Gumaya Tower Hotel Semarang, Jateng, Senin (10/10). Pertemuan tersebut dipastikan tidak akan membahas mengenai perlindungan dan promosi hak-hak pekerja migran karena belum ada kesepakatan antara negara pengirim buruh migran (Indonesia, Filipina, Thailand, dan Myanmar) dengan negara penerima buruh migran (Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam). ( ant )

Semarang ( Berita ) : Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri mengatakan permasalahan sosial di Indonesia lebih kompleks dibandingkan negara ASEAN lainnya karena jumlah populasi yang besar dan wilayah yang luas.

“Di Indonesia lebih banyak penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) yaitu sampai 22 kelompok, ini memang cukup kompleks kalau di negara-negara ASEAN karena memang populasi kita yang besar mencapai 240 juta jiwa,” kata Mensos usai pembukaan ASEAN Social Cultural Community (ASCC) Council Meeting di Semarang, Senin [10/10].

ASCC Council Meeting dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono, dalam acara tingkat menteri itu juga dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana.

ASCC delegasi council dihadiri sejumlah menteri negara ASEAN yaitu Menteri Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia, Menteri Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Brunei Darussalam.

Juga dihadiri sekretaris departemen sosial dan Kesejahteraan Rakyat Philipina serta Menteri Senior delegasi untuk pembangunan Kamboja.

Menurut Mensos, negara-negara ASEAN lainnya juga memiliki permasalahan sosial tapi karena jumlah populasi yang lebih kecil dibandingkan Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa sehingga permasalahan sosial di Indonesia lebih kompleks.

“Dibandingkan negara ASEAN lain mungkin Singapura sudah cukup bagus karena jumlah populasinya tidak sebesar kita,” tambahnya.

Lebih lanjut, dikatakan Mensos, ke depan bagaimana persoalan-persoalan terkait budaya dan permasalahan sosial harus dihadapi bersama sebab jika tidak diperbaiki akan berdampak buruk juga pada komunitas ASEAN itu sendiri.

ASCC adalah delegasi tingkat menteri yang membahas tentang permasalahan sosial dan budaya dalam rangka mencapai Komunitas ASEAN 2015 diselenggarakan selama dua hari sejak Senin hingga Selasa 10-11 Oktober 2011 di Semarang.

Berbagai hal dibahas dalam ASCC Council Meeting seperti tidak ada infeksi baru lagi, masalah penyandang cacat, HIV dan AIDS dan hasilnya nanti akan dibawa dalam pertemuan puncak ASEAN di Bali.

Perjuangkan Aksesibilitas Penyandang Cacat

Menteri Sosial Salim Segaf AL Jufri mengatakan, ASEAN Social Cultural Community (ASCC) akan memperjuangkan aksesibilitas penyandang cacat hingga menjadi satu aturan yang diratifikasi dalam pertemuan tingkat tinggi ASEAN di Bali November mendatang.

“Yang akan diangkat di KTT di Bali salah satunya standarisasi yang jelas untuk penyandang cacat sebab banyak hak-hak mereka yang belum terwujudkan seperti aksesibilitas pusat pertokoan, gedung publik hak-hak mereka belum terealisasi dengan bagus ini yang perlu diwujudkan,” kata Menteri Sosial (Mensos) di Semarang, Senin.

ASCC adalah delegasi tingkat menteri yang membahas tentang permasalahan sosial dan budaya dalam rangka mencapai Komunitas ASEAN 2015 diselenggarakan selama dua hari sejak Senin hingga Selasa 10-11 Oktober 2011 di Semarang.

Berbagai hal dibahas dalam ASCC Council Meeting seperti tidak ada infeksi baru lagi, masalah penyandang cacat, HIV dan AIDS dan hasilnya nanti akan dibawa dalam pertemuan puncak ASEAN di Bali.

ASCC delegasi council dihadiri lima menteri negara ASEAN yaitu Menteri Informasi, Komunikasi dan Kebudayaan Malaysia, Menteri Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Brunei Darussalam.

Juga dihadiri sekretaris departemen sosial dan Kesra Philipina, Menteri Senior delegasi untuk pembangunan Kamboja serta Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat RI Agung Laksono.

Selain itu juga dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana.

Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri menyatakan, ke depan diinginkan ada standar yang sama di komunitas ASEAN sehingga kemanapun penyandang cacat ke negara ASEAN mereka mendapat aksesibilitas seperti transportasi, di gedung publik bahkan di tempat ibadah.

“Selama ini aksesibilitas itu tidak terwujud, yang kita inginkan aksesibilitas bisa diwujudkan terutama di negeri kita sendiri. Mudah-mudahan di ASEAN Summit nanti bisa diwujudkan,” tambah Salim.

Bahas 18 Permasalahan

“ASEAN Sosial Cultural Community (ASCC) Council Meeting” membahas 18 permasalahan sosial dan budaya yang hasilnya akan dibawa dalam pertemuan tingkat tinggi KTT ASEAN di Bali pada November 2011.

“Indonesia sebagai ketua ASEAN kali ini, akan menghimpun permasalahan-permasalahan dari seluruh negara anggota. Ada 18 permasalahan yang dibahas dalam ASCC,” kata Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono di Semarang, Senin.

Menko Kesra membuka ASCC Council Meeting yang dihadiri sejumlah menteri Kabinet Indonesia bersatu II dan sejumlah menteri negara ASEAN.

Menko Kesra menjelaskan, sejumlah permasalahan yang akan dibahas dan dibawa ke KTT ASEAN di antaranya peresmian AHA center yaitu pusat penanggulangan bencana di Asia yang pusatnya di Jakarta.

“Mereka percaya kita gurunya sehingga pusatnya AHA Center berada di Jakarta,” kata Agung Laksono.

Selain itu juga terkait deklarasi penanggulangan HIV AIDS bahwa negara-negara ASEAN sepakat untuk zero infeksi. Deklarasi penanganan penyandang cacat, serta posisi negara ASEAN pada konferensi perubahan iklim di Durban Afrika Selatan pada 2012.

“Juga target kita berdirinya forum menteri-menteri pemberdayaan perempuan di ASEAN. Kemudian program pasca sarjana program studi ASEAN di lima universitas terbuka di lima negara ASEAN,” tambah dia.

Hasil dari ASCC Council Meeting, kata Agung Laksono akan dibawa ke pertemuan tingkat tinggi KTT ASEAS di Bali, dalam pertemuan puncak para presiden pada November mendatang.

Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan ke enam ASCC yang mengambil tempat di Semarang. Pertemuan tersebut berlangsung selama dua hari sejak 10-11 Oktober 2011. Sebelumnya telah diselenggarakan pertemuan tingkat pejabat tinggi pada 7-8 Oktober 2011 “Senior Officials Commitee for ASCC (SOCA) Meeting”.

Sumber: Berita Sore