Tampilkan postingan dengan label Hankam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hankam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2011

Kenapa Syiah Dianggap Sesat?

Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaludin Rakhmat mengatakan bahwa konflik antara Sunni dan Syiah sudah terjadi sejak lama.

Dia mencontohkan, pada 2007 telah terjadi banyak penyerangan kepada Syiah seperti yang terjadi di Bondowoso, Bangil dan Sampang.

"Mereka sempat masih menyisakan bahwa NU berada di balik penyerangan itu, termasuk di Madura," kata Jalaludin di Kantor Pusat IJABI, Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu 31 Desember 2011.

Saat itu, pada 9 April 2007, kata Jalaludin Tajul Muluk yang saat ini menjadi pembina pesantren Syiah ketika melakukan peringatan maulid Nabi di Sampang, ada sekitar 5.000 orang menghadang dan meminta kepada kepolisian untuk menghentikan kegiatan tersebut.

Serta meminta agar Tajul Muluk menandatangani surat pernyataan untuk tidak melakukan penyebaran aliran Syiah yang dianggap sesat kepada warga setempat.

Kemudian, satu bulan kemudian Tajul Muluk dilantik sebagai Pengurus Daerah IJABI Kabupaten Sampang pada tahun 2007-2010 sebagai Ketua Umum sedangkan kakaknya, Roisul Hukama sebagai Dewan Penasehat. Karena adanya konflik keluarga, kata dia Rois kemudian pindah kepihak lawan yaitu Sunni.

"Karena konflik keluarga, dia pindah ke pihak lawan Tajul Muluk untuk membangun kekuatan buat mengalahkan adiknya, jadi ia meluaskan konflik keluarga dengan memanfaatkan potensi konflik agama," kata dia.

Dari konflik keluarga inilah, pada Kamis, 29 Desember sekitar pukul 9.15, pesantren milik warga Syiah di Nangkernang, Sampang, Madura, dibakar massa.

Jalaludin juga mengatakan, selama hampir empat tahun IJABI dalam melakukan kegiatan keagamaan mendapatkan gangguan dari kelompok-kelompok yang mengakui dirinya sebagai Aswaja. "Gangguan itu bersifat provokasi untuk menyebarkan kebencian kepada Syiah di masjid dan pengajian," kata dia.

Bahkan, kata Jalaludin pada tahun 2009 Tajul Muluk pernah diminta agar menandatangani perjanjian yang berisi bahwa Tajul Muluk tidak akan menyebarkan ajaran Syiah di Sampang dengan syarat Sunni Aswaja dan MUI Sampang tidak menanggap sesat ajaran Syiah.

Kemudian, Tajul menawarkan opsi untuk melakukan dialog ilmiah, namun usulan ditolak. Penghujatan dan ancaman terhadap pengikut Syiah terus berlangsung. Kemudian, Polisi melakukan pertemuan dengan Muspida serta tokoh masyarakat di Sampang. Dalam pertemuan itu, menawarkan tiga opsi, yaitu menghentikan semua aktivitas di wilayah Sampang dan kembali ke paham Sunni, diusir ke luar wilayah Sampang tanpa ganti rugi, kalau tidak dipenuhi maka jemaah Syiah di Sampang harus mati.

Pilihan yang sama juga ditawarkan oleh MUI Sampang, PCNU Sampang dan Muspida Sampang. "Tentu saja Tajul menolak, mereka malah balik menuduh Tajul melanggar kesepakatan, kemudian Tajul diamankan di kantoe polisi," kata dia.

Kemudian, kata dia IJABI mengirimkan tim dari pusat untuk berunding dengan pemerintah Jawa Timur. Pertemuan ini menghasilkan Gentlement's Agreement. Dalam proses negosiasi ini, kata dia tiba-tiba Tajul melepaskan diri dari organisasi IJABI dan hijrah ke Malang.

Sumber: VivaNews

Selasa, 20 Desember 2011

Akar Masalah Papua, Saling Tidak Percaya

Kekerasan demi kekerasan terjadi di tanah Papua. Yang terakhir, helikopter jenis MI Heavy Lift ini mengangkut 25 karyawan PT Freeport Indonesia ditembak oleh orang tidak dikenal.

Terkait kekerasan yang terus terjadi, Koordinator Jaringan Papua Damai, Neles Tebay mencoba menggaris bawahi akar konflik di Papua. Menurutnya, rasa ketidakpercayaan antara pemerintah pusat dan orang asli Papua menjadi salah satu kata kunci dalam memandang persoalan Papua tersebut.

"Kami di Papua butuh banyak pertemuan, yang (seharusnya) dihadiri oleh pemerintah, orang Papua maupun pendatang untuk membangun rasa saling percaya," kata Neles dalam diskusi 'Papua Kita: Saling Kenal, Saling Percaya', di Kemang, Jakarta Selatan, Selasa 20 Desember 2011.

Neles menganalogikan, kebersamaan Indonesia-Papua dengan kebersamaan yang terbangun saat tim sepakbola asal Papua, Persipura memenangkan pertandingan atau kejuaraan sepakbola tingkat nasional. Saat itu, semua masyarakat Papua turun untuk merayakan kebahagiaan bersama.

"Kami punya Persipura. Ketika mereka juara semua orang merayakan. Tidak peduli kulit hitam, atau putih, rambut melingkar atau lurus, semua berbagi kebahagiaan," ujarnya.

Sementara, pembicara lain, Direktur Eksekutif The Ridep Institute, Amirudin al Rahab menyatakan selain dialog, pemerintah saat ini perlu menghilangkan stigma buruk warga Papua. Khususnya mereka yang dengan berani menyampaikan protes atas ketidakpuasan terhadap kondisi Papua.

"Hilangkan prasangka-prasangka buruk terhadap mereka. Jangan setiap tindakan mereka dianggap gerakan separatis," terangnya.

Amiruddin menambahkan pada saat ini, tantangan Indonesia bukanlah mengindonesiakan Papua tetapi mempapuakan Indonesia. "Jika mengindonesiakan Papua hasilnya adalah konflik, maka sekarang perlu dirumuskan bagaimana pemerintah mempapuakan Indonesia," ucapnya.

Sumber: VivaNews

Jumat, 04 November 2011

Ini Alasan Pepi Jadikan SBY Target Bom

Jakarta-Pepi Fernando menargetkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai sasaran bom, mulai dari bom termos yang berada di seberang jalan depan Markas Kodam Jaya hingga bom di Cibubur, tetapi semuanya gagal.

Apa alasan dan motif Pepi menjadikan SBY sebagai target pengeboman?

"Dalam pemahaman terdakwa dalam kenyataannya negara yang dipimpin Presiden SBY saat ini banyak orang-orang yang secara fakta tidak beriman dengan masih kebanyakan korupsi, perzinahan, dan lain-lain," kata Jaksa Penunutut Umum (JPU) Bambang Suharyadi saat membacakan dakwaan di hadapan majelis hakim yang diketuai oleh Moestafa di PN Jakarta Barat, Jakarta, Kamis (3/11/2011).

Bambang mengatakan, Pepi selalu mengikuti langkah kebijakan politik SBY selama ini, apalagi dengan adanya buku berjudul Surat Ulama Kepada Penguasa yang ditulis oleh Abu Bakar Ba'asyir bersama ulama lainnya yang tidak direspons oleh Presiden. "Terdakwa menetapkan Presiden SBY sebagai target bom," imbuhnya.

Diketahui, Pepi merencanakan bom termos dengan meletakkannya di jalan depan Kodam Jaya, Cawang, Jakarta Timur. "Ketika rombongan SBY melewati lokasi bom maka terdakwa akan menggunakan handphone yang berfungsi sebagai remote bom hingga terjadi ledakan," katanya.

Kelompok Pepi menunggu selama empat hari di lokasi perencanaan ledakan dekat dengan bom sembari menunggu rombongan SBY lewat. Namun, selama empat hari, SBY tidak melewati jalan tersebut. Pepi pun kemudian mencoba remote bom, tetapi tidak aktif lagi dan tidak terjadi ledakan bom. "Terdakwa dan temannya memutuskan untuk tidak mengambil bom tersebut dan membiarkan di lokasi semula," ungkap Bambang.

Selanjutnya, Pepi kembali berencana meledakkan bom saat rombongan SBY melewati Jalan Raya Alternatif Cibubur. Rencana itu muncul saat Pepi sering melihat informasi di media bahwa SBY sering pulang ke rumahnya di Cikeas. "Kemudian tanpa melakukan survei terlebih dahulu, terdakwa merasa yakin bahwa Presiden SBY setiap hari ke rumahnya," imbuh Bambang.

Pepi lalu membuat bom kotak besi dan akan meledakkan bom saat hari masih subuh. Saat akan meletakkan bom pada lokasi yang ditentukan, Pepi melihat lampu mobil patroli polisi. Ia pun khawatir akan ada razia polisi. Maka, Pepi balik arah menuju Cileungsi dan masuk ke Kota Wisata Cibubur. "Terdakwa meletakkan bom di bawah pohon dengan gardu listrik. Terdakwa lalu pulang ke Bekasi," tukasnya.

Sumber: KompasCom

Sabtu, 29 Oktober 2011

OPM Tolak Merah Putih dari Bupati Puncak Jaya

Bupati Kabupaten Puncak Jaya, Lukas Enembe, didatangi seseorang yang mengaku sebagai Wakil Komandan Operasi Organisasi Papua Merdeka (OPM) Rambo Wonda kemarin di kediamannya, Kota Mulia, Puncak Jaya. Kelompok yang mengaku sebagai 'Kodam X' pimpinan Komandan Purom alias Okinak Wonda ini merupakan pemekaran OPM pimpinan, Goliat Tabuni.

Menurut Lukas Enemba, Purom ini dulunya merupakan anak buah dari Kelompok Marunggen. Marunggen sendiri masih di bawah komando Goliat Tabuni yang bermarkas di Yambi dan Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Papua.

"Sekarang ternyata sudah memiliki komandan baru dan mengatasnamakan 'Kodam X serta' senjata api yang lumayan banyak," kata Lukas Enembe dalam perbincangan dengan VIVAnews.com lewat telepon, Sabtu 29 Oktober 2011.

Menurut Lukas, kelompok ini adalah salah satu dari 30 organisasi sayap militer OPM. Ini disinyalir kelompok baru dari sayap militer OPM. Tapi Lukas menyebut kelompok ini di luar Komando Goliat Tabuni yang memiliki markas di Yambi dan Tingginambut.

Saat surat itu disampaikan, Lukas sempat memberikan bendera Merah Putih untuk mereka bawa pulang, "Tapi ditolak," kata Lukas.

Lukas pun tidak mempermasalahkan penolakan bendera Merah Putih itu. "Pusat militer mereka di Pilia daerah Kuyawage di Kabupaten Intan Jaya," kata Lukas Enembe.

Lukas mengetahui informasi ini saat didatangi pria yang mengaku wakil OPM di kediamannya kemarin. Dalam surat itu, kelompok 'Kodam X' ini mengaku bertanggungjawab atas penembakan Kapolsek Puncak Jaya, Papua, Ajun Komisaris Polisi Dominggus Oktavianus Awes di Bandara Mulia pada Senin 24 Oktober 2011 lalu.

"Goliat sendiri mengaku tidak bertanggungjawab atas penembakan itu," kata Lukas Enembe yang mengaku sudah mendapat pesan dari kelompok Goliat.

Mengenai situasi terkahir Puncak Jaya, Lukas menyatakan kini sudah berangsur pulih. Pada malam hari, patroli keamanan lebih diintensifkan.

Sumber: VivaNews

Kamis, 27 Oktober 2011

SBY: Tak Ada Operasi Militer di Papua

Bumi Papua terus memanas dalam sebulan terakhir. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya angkat bicara soal kerusuhan yang terus terjadi di Papua.

Menurut, SBY semua pihak harus jernih dalam melihat konflik yang terjadi di Papua belakangan ini. "Kita harus jernih, saudara-saudara di sana harus jernih, dunia, LSM internasional juga harus jernih melihat ini," kata SBY, sebelum membuka rapat kabinet paripurna, di Kantor Sekretariat Negara, Kamis 27 Oktober 2011.

Menurut SBY kebijakan pemerintah untuk Papua sudah tepat. Pemerintah menerapkan otonomi khusus di Papua dengan semaksimal mungkin. "Sejak tujuh tahun yang lalu setelah saya mengemban amanat sebagai presiden, saya sudah ada pendekatan terhadap Papua," kata SBY

SBY mengatakan, sebelumnya pendekatan keamanan diterapkan di Papua, namun kemudian diubah karena dinilai kurang tepat. "Kemudian diubah menjadi pendekatan kesejahteraan untuk kesejahteraan saudara-saudara kita," imbuhnya.

SBY menjelaskan apa-apa saja yang telah diberikan pemerintah kepada Papua. Pemerintah sudah mengalokasikan anggaran bagi Papua dan Papua Barat yang meningkat secara signifikan. "Untuk meningkatkan pelayanan publik dan administrasi pemerintah membentuk kabupaten-kabupaten di Papua menyejahterakan di kampung-kampung," kata dia.

Lebih lanjut. Yudhoyono mengatakan, saat ini pemerintah tidak menjalankan operasi militer secara masif. "Satuan TNI di sana untuk menjaga keamanan negara, polisi untuk menegakan hukum dan keadilan," kata dia. Dia menegaskan tugas aparat itu untuk menjalankan tugas negara.

Menurut SBY dalam berbagai kesempatan pihaknya menyampaikan cara mengatasi persoalan Papua ketika pertemuan dengan pemimpin dunia. "Ini cara kita mengatasi permasalahan di Papua," kata beliau.

Sumber: VivaNews

Rabu, 26 Oktober 2011

Teror Beruntun, Papua Masuk Status Waspada

Situasi Papua kian memanas. Sejumlah warga mati. Ada juga polisi yang tewas. Itu sebabnya aparat di sana kian ketat mengawasi wilayah itu. Seluruh pulau itu dalam status waspada. Dan status Siaga Satu untuk Puncak Jaya.

Di Kabupaten Puncak Jaya itulah Komisaris Polisi Dominggus Oktavianus Awes disergap gerombolan bersenjata Senin 24 Oktober. Ia tewas. Bukan polisi biasa, Dominggus adalah Kapolsek Mulia. Ia dimakamkan Rabu, 26 Oktober 2011.

Polisi menyebutkan bahwa yang menghabisi Dominggus adalah Organisasi Papua Merdeka (OPM). Itu organisasi yang didirikan sejumlah tokoh Papua pada Februari 1965 di Manokwari. OPM memiliki sayap militer yang disebut Tentara Pembebasan Nasional (TPN). Pasukan TPN itulah yang kerap kali bertempur dengan TNI dan juga polisi di sejumlah tempat.

Sesudah penembakan Dominggus itu, suasana Puncak kian Jaya panas. “Sampai sekarang masih ada serangan kelompok separatis secara sporadis,” kata Kapolda Papua Irjen Pol BL Tobing, usai pemakaman Dominggus.

Serangan mendadak dan sporadis, belakangan ini memang kian sering terjadi wilayah paling timur itu. Dan yang paling mencekam adalah Kabupaten Puncak Jaya. Baku tembak terjadi hampir saban hari.

Sehari sesudah penembakan Kapolsek Dominggu itu, Selasa 25 Oktober 2011, Pos Komando Taktis Brimob di Mulia diberondong senjata dari atas gunung. Jika benar OPM, tampaknya mereka kian berbahaya dan punya nyali. Sebab Pos Komando Taktis Brimob itu, letaknya tidak begitu jauh dari Mapolres Puncak Jaya.

Belakangan ini Puncak Jaya memang jadi sasaran empuk kelompok bersenjata ini. Sesudah memberondong Pos Brimob itu, dalam hitungan jam, Kantor Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten itu dibakar.

Wilayah yang juga tengah memanas adalah Mimika, kabupaten kaya tambang yang ibukotanya adalah Timika. Jumat pekan lalu, tiga orang tewas ditembak di situ. Para pelaku masih misterius. Penembakan kembali terjadi, Rabu 26 Oktober 2011. Satu unit mobil patroli milik PT Freeport diberondong ketika keliling patroli rutin.

Jika pelaku penembakan di Timika itu masih ditelusuri, para pelaku di Puncak Jaya sudah diidentifikasi. Mereka yang menyerang Kapolsek Domingus itu bertubuh garing dan nyeker alias tanpa sepatu atau sandal. Bupati Puncak Jaya, Lukas Enembe, juga meyakini bahwa mereka adalah OPM.

Taktik yang dipakai kelompok ini, lanjut Lukas, berbeda dengan taktik OPM selama ini. Jika sebelumnya mereka memakai taktik hit and run, menembak lalu kabur ke rimba raya, kali ini tidak. Mereka, lanjut Lukas, sudah bergeser ke dalam kota.

Di seluruh Kabupaten Puncak Jaya, urai Lukas, OPM terbagi dalam tiga kelompok. Ada kelompok yang dipimpin Gholiat Tabuni, pimpinan Mathias Wenda, dan kelompok yang berafiliasi dengan OPM yang bermarkas di Papua Nugini. Meski berbeda, tujuan mereka sama. Mewujudkan Papua merdeka.

Sebelum rentetan serbuan sporadis itu terjadi, sejumlah kelompok pro kemerdekaan Papua menggelar Kongres di Lapangan Sepakbola Zakheus, Padang Bulan, Abepura. Sekitar 30 menit perjalanan dari Jayapura.

Saat Kongres memasuki tahap akhir, aparat menerobos masuk membubarkan acara itu. Alasannya jelas. Kongres itu adalah bentuk makar. Dibuka dengan pengibaran Bintang Kejora, bendera kemerdekaan Papua, dan ditutup dengan deklarasi Papua Merdeka. Sejumlah orang tewas dalam kejadian ini.

Taktik Gerombolan Puncak Jaya
Tim khusus kepolisian terus memburu gerombolan di Puncak Jaya itu. Rabu 16 Oktober 2011, misalnya, polisi menguber para pelaku hingga hutan. Tapi bahaya bisa mengintai kapan saja. Itu sebabnya para polisi diminta waspada.

“Petugas tidak diperkenankan berjalan dalam jumlah minor. Minimal harus lima orang,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Inspektur Jenderal Pol Anton Bachrul Alam, di Mabes Polri Jakarta.

Polisi mengidentifikasi bahwa kelompok pengacau keamanan di Puncak Jaya jumlahnya 30 orang. Mereka dibelaki senjata api. Kelompok ini sedang mengumpulkan senjata api. Modus yang mereka gunakan adalah merampas senjata dari polisi.

Itulah yang terjadi dengan Kapolsek Dominggus. Gerombolan ini merebut senjatanya. Lalu menembak Dominggus dengan senjata yang sama. Guna mengamankan senjata itu, Mabes Polri memerintahkan seluruh jajaran di sana menjaga ketat gudang senjata. Pengamanan juga terus diperketat.

Tapi tidak mudah mengunci kelompok di Puncak Jaya itu. Sebab itu kawasan yang bergunung terjal. Tak mudah dijangkau. “Kelompok bersenjata ini menduduki puncak gunung. Itu medan berat. Anggota kami tidak terbiasa dengan medan itu, sedangkan mereka sudah biasa,” keluh Anton Bachrul Alam.

Lantaran medan yang sulit itu, Mabes Polri menambah jumlah personil. Selasa kemarin, mereka mengirim satu unit batalion Brimob ke sana. “Kami mengirim pasukan sekitar 300 personel lebih ke Papua,” kata Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, Komisaris Jenderal Pol Sutarman di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Pasukan Brimob secara khusus mengamankan dua daerah yang dikenal rawan di Papua yaitu Puncak Jaya dan Paniai. Kedua daerah ini menjadi prioritas, karena di sini sering terjadi penembakan oleh orang tidak dikenal.

Waspadai Internasionalisasi Isu
Ketua Komisi I DPR yang membidangi pertahanan dan intelijen, Mahfudz Siddiq, meminta Badan Intelijen Negara (BIN) dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) untuk memperkuat operasinya di Papua, terutama bila ada indikasi berbagai insiden di bumi Papua ada kaitannya dengan aksi separatisme.

“BIN dan BAIS harus perkuat operasi mereka, terutama kontra-intelijen, dalam menghadapi anasir separatis,” kata Mahfudz. Kekuatan separatis di Papua, katanya, tidak besar. Mereka kalah dalam jumlah anggota maupun persenjataan dengan Gerakan Aceh Merdeka dahulu.

Masalahnya, kata Mahfudz, “Kekuatan separatis Papua menjadi berbahaya karena berpotensi menjadi isu internasional, terkait problem historis-politis dalam penanganan Papua.” Oleh karena itu, Mahfudz mengingatkan pemerintah untuk meminimalisir sebisa mungkin pola-pola pendekatan represif militeristik dalam menangani berbagai persoalan di Papua.

Mahfudz berpendapat, penanganan masalah keamanan di Papua harus tetap mengedepankan aparat kepolisian, sementara TNI diturunkan untuk diperbantukan dalam situasi yang sulit. “Kekuatan TNI harus difokuskan pada penjagaan wilayah-wilayah perbatasan negara yang rawan senagai jalur akses dan infiltrasi anasir separatis,” kata Mahfudz.

Ia memperingatkan TNI agar jangan sampai terpancing melakukan aksi militeristik. “Ini penting, karena bisa jadi ada pihak-pihak yang memang ingin memancing TNI untuk turun tangan dalam skala lebih besar, sehingga akhirnya mereka bisa memunculkan isu pelanggaran hak azasi manusia, dan membawa isu Papua ke ranah internasional,” kata Mahfudz.

Hal yang juga tak kalah pentingnya, imbuh Mahfudz, pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Papua harus terus berkonsentrasi untuk mengefektifkan program pembangunan ekonomi dan kesejahteraan di sana, dalam kerangka otonomi khusus Papua.

Peryataan senada disampaikan Wakil Ketua DPR Pramono Anung. Menurutnya, pemerintah harus mengedepankan pendekatan humanis dalam menyelesaikan kekerasan di Papua, karena akar permasalahan di Papua selama ini adalah ketidakadilan yang dirasakan oleh masyarakat setempat. "Di sana ada perusahaan-perusahaan multinasional, tapi masyarakatnya tetap hidup miskin. Jadi ada ketidakadilan. Ada perusahaan kelas dunia, tapi masyarakat miskin sekali,” kata dia.

Sumber: VivaNews

Senin, 24 Oktober 2011

Kapolsek Mulya Papua Tewas Ditembak

Kapolsek Mulya Papua AKP Dominggus Oktavianus Awes tewas ditembak di kepalanya. Pelaku diduga anggota kelompok separatis.

Menurut Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Anton Bachrul Alam, insiden penembakan itu terjadi pada pukul 11.30 Wita saat kapolsek bertugas di Bandara Mulya.

"Tadi jam 11.30 Wita Kapolsek Mulya sedang bertugas di Bandara Mulya didatangi dua orang tak dikenal. Saat itu kapolsek sedang berada di depan pesawat. Dua orang ini tiba-tiba menyerang kapolsek hingga terjatuh dan hingga tak berdaya," jelasnya dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin (24/10)

"Keduanya merampas senjata Kapolsek. Dan berhasil. Kemudian ditembak kepalanya, dari hidung tembus ke kepala belakang. Lalu mereka melarikan diri ke hutan," ujarnya.

Peluru yang menembus kepala Dominggus, lanjut Anton, hanya sebutir. Namun pistol yang direbut orang tak dikenal itu dibawa lari.

Menurut Anton, Dominggus memang sehari-hari bertugas untuk mengamankan bandara. Saat kejadian banyak saksi yang melihat.

Sumber: Yahoo

Sabtu, 22 Oktober 2011

"Pergi ke Desa, Kami Harus Lewat Malaysia"

Karena tanah yang tergerus ombak, garis batas Indonesia dengan Malaysia berubah. Kondisi wilayah perbatasan di Dusun Camar Bulan, Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat sangat memprihatinkan. Pantai di wilayah itu terkena abrasi yang parah.

Karena tanah yang tergerus ombak itu lah, garis batas Indonesia dengan Malaysia berubah. Tanah di Camar Bulan itu hilang hingga menjorok ke daratan mencapai 10 kilometer.

Patok-patok perbatasan antara Indonesia dan Malaysia pun banyak yang hilang. Persoalan ini telah disampaikan masyarakat kepada pemerintah pusat dan pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.

"Supaya garis pantai tidak terkikis air laut memang harus cepat dibangun pemecah gelombang di kawasan ini," kata warga Camar Bulan, Sayudin kepada VIVAnews.com, Jumat 21 Oktober 2011.

Bahkan, yang lebih tragis lagi, warga Dusun Camar Bulan harus 'mampir' ke Malaysia untuk menuju desa mereka. "Dari Dusun Camar Bulan, kami harus melewati jalan di Malaysia dulu jika ingin ke Desa Temajuk," kata dia.

"Mengapa ini terjadi, karena daratan Indonesia hilang dan Malaysia masih tetap utuh," kata warga Camar Bulan lainnya, Adi.

Adi menambahkan, masalah persoalan garis perbatasan memang masih menjadi pembicaraan antar pemerintah dua negara yang belum tuntas sampai saat ini. Namun, langkah cepat harus diambil pemerintah Indonesia untuk menyelamatkan wilayah negara.

Sementara itu, Wakil Bupati Sambas, Pabali Musa saat dikonfirmasi kondisi itu mengatakan pembangunan di perbatasan tetap menjadi prioritas. "Kita akan lebih memprioritaskan yang lebih penting dulu, terutama infrastruktur di daerah perbatasan. Baik itu jalan, pendidikan dan lain sebagainya," kata dia.

Sebelumnya, anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat, TB Hasanuddin mengatakan terjadinya pencaplokan wilayah Indonesia oleh Malaysia di Tanjung Datu dan Camar Bulan ini. Sekitar 1.400 hektare tanah Dusun Camar Bulan dan 80 ribu meter persegi di pantai Tanjung Datuk dicaplok Malaysia.

Sumber: Viva News