Kamis, 08 Desember 2011

“102 dari 100 Ribu Ibu Melahirkan, Meninggal”

Pemerintah mengaku kesulitan untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan yang masih tergolong tinggi di Indonesia. Salah satu kendala utamanya adalah sulitnya para ibu hamil mendapatkan akses pelayanan kesehatan akibat faktor geografis dan budaya masyarakat setempat.

“Angka kematian ibu rata-rata 102 per 100 ribu kelahiran. Padahal salah satu indikator keberhasilan Millenium Development Goals (MDGs) adalah turunnya angka kematian ibu melahirkan. Namun itu sulit tercapai,” kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sendyaningsih di Yogyakarta, Jumat 21 Oktober 2011.

Menurut Endang, kesulitan untuk menurunkan angka kematian ibu melahirkan tidak saja terjadi di Indonesia, tapi hampir di semua negara di dunia ini. “Ada 4 faktor yang menyebabkan kematian ibu melahirkan, yakni terlalu tua saat hamil, terlalu muda untuk hamil, terlalu sering hamil, dan terlalu dekat jarak kehamilannya,” jelas Endang.

Oleh karena itu, ujar Menkes, akses pelayanan kesehatan untuk ibu hamil perlu ditingkatkan. Salah satu caranya, lanjut Endang, Kementerian Kesehatan kini menggalakkan pendidikan kesehatan reproduksi di kalangan siswa sekolah, mulai dari SD hingga SMA.

“Perlu ditanamkan norma dan budaya, bahwa menikah itu idealnya pada usia 24-25 tahun. Padahal, 20-30 persen perempuan Indonesia menikah di bawah usia 20 tahun, terlalu muda,” kata Menkes.

Menurutnya, Kemenkes saat ini juga telah memperkenalkan beberapa program untuk meningkatkan kesehatan ibu, seperti meningkatkan peran suami dalam perawatan kesehatan ibu, meluncurkan program kesehatan gender responsif, dan memperkenalkan skema bantuan sosial.

“Program ini memberikan pelayanan persalinan gratis, perawatan di fasilitas kesehatan, perawatan pasca persalinan, dan perawatan pasca persalinan, dan pelayanan keluarga berencana bagi semua ibu hamil yang tidak tercakup oleh asuransi kesehatan,” kata Endang.

Sumber: VivaNews

0 komentar:

Posting Komentar