Senin, 06 Februari 2012

Cuaca Dingin Eropa, Akibat Perubahan Iklim?

Cuaca dingin ekstrem yang melanda Eropa melaju ke arah Barat, membuat negara yang selama puluhan tahun tidak mendapat salju, kini memutih. Diperkirakan cuaca super dingin ini terjadi akibat pemanasan global.

Sementara itu, jumlah korban tewas terus bertambah. Korban terbanyak di Ukraina. Diberitakan Reuters, per Sabtu 4 Februari 2012, korban tewas di Ukraina adalah yang terbanyak di antara beberapa negara Eropa lainnya.

Tercatat, sebanyak 122 orang meninggal dalam kurun waktu delapan hari karena hipotermia atau radang dingin. Sedikitnya 250 orang telah meninggal di seluruh Eropa. Suhu di negara pecahan Uni Soviet ini adalah yang terparah, mencapai minus 33 derajat celsius selama satu pekan terakhir.

Sebanyak 78 orang yang tewas di Ukraina ditemukan tergeletak di jalan. Mereka adalah kaum tuna wisma yang tidak mendapatkan perlindungan apapun dari cuaca dingin. Stasiun kereta api di Kiev kebanjiran para gelandangan, beramai-ramai mereka mencari tempat hangat di antara peron dan gerbong kereta.

Rumah sakit di negara ini juga kebanjiran pasien. Kementerian Kesehatan mengatakan, saat ini terdapat hampir 1.600 orang yang dirawat akibat cuaca dingin. Pemerintah juga telah menyalurkan 3.000 tenda berpenghangat, makanan dan minuman ke seluruh kota untuk menaungi para tuna wisma.

Cerita yang sama juga dialami di Polandia, dimana 37 orang meninggal dalam sepekan. Para tunawisma yang tewas tidak dapat bertahan dari cuaca dingin dengan hanya menggunakan perapian seadanya yang mereka buat. Beberapa lainnya tewas karena tertidur di atas salju setelah mabuk karena kebanyakan menenggak alkohol.

Di negara-negara Balkan di tenggara Eropa, banyak warga yang terjebak di dalam rumahnya, atau terparah di dalam mobilnya yang terkubur salju. Pemerintah Bosnia-Herzegovina bahwa telah mengumumkan status darurat Sabtu pekan lalu. Di wilayah pesisir Kroasia, yang jarang mendapat salju, tentara diturunkan untuk membantu warga yang terjebak.

Tentara juga diturunkan di Belgrad, Serbia, untuk membersihkan jalan-jalan utama dari salju. Pemerintah juga menawarkan 1.600 dinar atau sekitar Rp118 ribu per hari untuk membantu pembersihan jalan. Warga mengaku terbantu dengan pekerjaan dari pemerintah tersebut.

"Sudah berbulan-bulan saya kerja dan saya punya keluarga untuk dinafkahi. Pemerintah mengatakan pekerjaan ini memakan waktu berhari-hari, jadi uang ini akan memberi banyak perubahan," kata seorang warga, Zoran Djidovac, 30.

Anomali cuaca dirasakan oleh warga Roma, Italia. Untuk pertama kalinya selama 26 tahun pada 2012, kota ini diguyur salju lebat. Sebelumnya, salju dalam intensitas tinggi terakhir terjadi pada tahun 1986.

Di jalan-jalan kota ini, salju mencapai ketinggian hingga 20 centimeter, membuat bus dan taksi berhenti beroperasi. Pemerintah setempat juga terpaksa menutup obyek wisata paling terkenal di kota, yaitu Colosseum, yang diselimuti salju.

Sementara itu, di berbagai negara Eropa, ketersediaan listrik mulai bermasalah. Padahal, listrik dan gas adalah salah satu sumber penting untuk melalui musim dingin.

Salah satunya adalah di beberapa wilayah di selatan Italia yang tidak mendapat pasokan listrik karena kerusakan gardu. Sebanyak 160.000 orang di wilayah ini terancam kedinginan. Pemerintah menurunkan 1.000 staf untuk mengatasi kerusakan tersebut.

Pemerintah Perancis mengaku negaranya akan segera mencapai rekor tertinggi penggunaan konsumsi listrik pada musim dingin. Untuk mencegah pemutusan listrik berkala, pemerintah meminta warga di beberapa wilayah untuk mematikan peralatan listrik selama empat jam sehari.

Gas sebagai salah satu bahan bakar utama di Eropa juga terancam terganggu pasokannya. Pengekspor utama gas Rusia, Gazprom, mengatakan tidak mampu memenuhi permintaan gas untuk delapan negara di Eropa, mulai dari Italia sampai Polandia.

Akibat kelangkaan, harga gas di Inggris mencapai harga tertingginya dalam 10 minggu terakhir. Permintaan gas di Inggris saat ini mencapai 400 juta meter kubik per hari, meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya yang hanya 331,1 juta meter kubik.

Akibat Pemanasan Global

Cuaca dingin yang ekstrem di Eropa diduga salah satu akibat dari pemanasan global. Para ahli mengatakan, peningkatan panas bumi membuat es di perairan Kara dan Barents, Antartika, mencair dan mengganggu pola udara di atmosfir.

Menurut Stefan Rahmstorf dari Riset Dampak Iklim dari Potsdam Institute, hilangnya lapisan es Antartika memicu tekanan tinggi pada cuaca di utara Rusia, yang selanjutnya membawa angin dingin dari wilayah Antartika dan Siberia ke Eropa barat dan kepulauan di Inggris.

"Perairan yang tidak lagi ditutupi es ibarat pemanas ketika suhu air lebih hangat dibandingkan wilayah Antartika di atasnya. Ini menyebabkan udara bertekanan tinggi di Laut Barents yang kemudian menimbulkan cuaca dingin di Eropa," kata Rahmstorf, dilansir dari laman The Independent.

Hasil penelitian Rahmstorf dan timnya ini dibenarkan oleh Riset Kutub dan Kelautan Alfred Wegener Institute. Tim dari institut ini mengatakan bahwa saat es hilang dari lautan Antartika, maka udara panas dalam jumlah besar dilepaskan ke udara yang lebih dingin di atmosfir, menyebabkan tekanan udara meningkat akibat perbedaan suhu yang berbenturan.

Tekanan udara yang meningkat kemudian membuat atmosfir tidak stabil akibat tekanan udara yang berbeda. Akibatnya, pola angin berubah arah. "Siapapun yang mengira hilangnya sebagian besar es di Antartika tidak berdampak apapun, mereka salah. Ada interkoneksi yang kompleks di sistem iklim, dan Laut Barents-Kara telah menunjukkan mekanisme yang kuat," kata salah satu peneliti, Dr Petoukhov.

Sumber: VivaNews

0 komentar:

Poskan Komentar